30 November 2008

Pulau Telo di DAS Kahayan

Telo berasal dalam bahasa Kapuas, berarti tiga. Jadi, Pulau Telo adalah tiga buah pulau di daerah aliran sungai (DAS) Kahayan yang daratannya terpisah dari Kota Kuala Kapuas. Dapat dicapai dengan transportasi sungai seperti jukung (sampan-red), kelotok atau speed boat.

Sekilas, pulau itu nampaknya hanya ditumbuhi pohon-pohonan, jingah atau rambai. Padahal jika masuk, maka akan terlihat hamparan hijau persawahan penduduk.

Bahkan menurut Khairun (70), sesepuh masyarakat Desa Pulau Telo Kecamatan Selat, kegiatan bersawah itu sudah berlangsung bertahun-tahun.

"Hasilnya bagus, sama saja dengan di tempat lain," ujarnya dengan logat Dayak yang kental.

Soal pulau itu akan dijadikan lokasi perjudian, dia mengaku belum mendengarnya. Tapi, lanjutnya, tentang rencana membuka pulau itu sebenarnya sudah beberapa kali dilakukan. Selain oleh orang dari luar negeri, keluarga cendana (mantan presiden Soeharto-red) pun di jaman orba pernah berminat membuka kawasan Pulau Telo.

"Rencananya mau dibikin taman dan tempat rekreasi, katanya. Waktu pembukaan, mbak Tutut (Siti Hardiyanti Rukmana-red) juga datang," cerita Khairun.

Malah, lanjutnya, pejabat daerah dan anak-anak sekolah juga dikerahkan di peresmian awalnya. Berbagai hiburan dan permainan musik, menjadi sajian utama acaranya.

Namun entah kenapa, proyek itu terhenti tiba-tiba. Padahal sudah berjalan dan sempat dilakukan pengerukan, yang tujuannya untuk membuat jalan menghubungkan ketiga pulau.

"Kami juga tidak tahu kenapa berhenti, padahal sudah dikeruk," tukasnya.

Setelah beberapa tahun tidak ada kabar beritanya, seiring turunnya Soeharto dari tampuk kekuasaan, tiba-tiba setengah tahun lalu datang orang asing melihat ke tempat yang sama. Informasinya, orang dari Jepang itu juga membawa penerjemah.

"Katanya survey, kami juga diajak foto-foto. Tapi cuma itu, karena sampai sekarang tidak pernah datang lagi," tutur kakek berperawakan kurus ini.

Buaya Buntung

Selain rimbun dengan pohon-pohonan juga di berbagai sudutnya dapat ditemui kain-kain berwarna kuning dalam berbagai ukuran yang dipasang seperti bendera. Tempat itu, memang dipercaya masyarakat sebagai tempat angker dan ada penunggunya.

"Kelihatannya kayu-kayuan, tapi bila malam-malam orang yang lewat melihatnya seperti banua yang terang benderang," ujar Khairun yang percaya kalau pulau itu memang ada penunggunya.

Malah berdasar cerita yang diperolehnya dari orang-orang tua dulu, pulau itu dulunya adalah kapal Belanda yang kandas.

"Sudah berabad-abad lalu, lama-kelamaan menjadi pulau," beber kakek yang sudah tinggal lebih 40 tahun di daerah itu.

Sedang kain-kain kuning yang dipasang laiknya bendera, diakuinya itu berasal dari orang-orang yang berhajat. Mereka ada penduduk setempat, namun tidak jarang datang dari jauh.

"Mungkin karena mereka percaya pulau ada penunggunya, makanya mereka berhajat," tandasnya.

Sementara menurut Gawang, penunggu Pulau Telo adalah seekor buaya buntung yang disebut Raden Kudung.

"Bahari katanya memang ada penunggunya di sini, seekor buaya buntung tidak bertangan dan berkaki, namanya Raden Kudung. Aneh dan ajaib, memang," beber Gawang.

Ini, lanjutnya bukan hanya kisah tapi berdasar cerita mertuanya yang mengalami sendiri di kejar-kejar buaya di sekitar lokasi Pulau Telo.

"Dulu semasa sidin sekolah tahun 40-an, jukung yang sidin dan kawan-kawan tumpangi sering dikejar buaya. Bila tidak dilempar sesuatu, misal papan atau benda apa saja, bakalan jukung yang jadi sasaran," imbuhnya.

Makanya tak heran, kalau di sekita Pulau Telo, ada saja orang yang memasang bendera atau kain kuning.

"Mungkin mereka punya hajat tertentu, dan masih percaya tempat itu ada penunggunya yang bisa memenuhi keinginan mereka," tukas Gawang.

Musibah Jukung Terbalik

Di sekitar Pulau Telo, tak jarang ditemui hal-hal aneh. Salah satunya musibah terbaliknya jukung yang menewaskan seluruh penumpangnya, akhir Oktober 2003.

Menurut orangtua salah seorang korban, mereka merasa aneh dan tak percaya atas kejadian itu. Pasalnya, puluhan tahun bermukim di sana dari nini-kai mereka dulu, tidak pernah mengalami kejadian seperti ini.

"Katanya kena gelombang, ujar pemancing ikan yang sempat melihat. Tapi gelombang itu disebabkan oleh apa, tidak ada yang tahu," ungkap Toyo dan Sariah, orangtua almarhum Agus Ariyanto.

Bahkan dilihat sepintas, lanjutnya, aliran sungainya nampak tenang dan tak bergelombang. Meski sesekali dilalui kapal motor atau speed boat, sungai yang termasuk DAS (Daerah Aliran Sungai) Kahayan ini, hanya menimbulkan riak dan gelombang kecil sepanjang permukaannya.

Dan melewati sungai juga bukan hal aneh bagi mereka. Sehingga rute yang dilalui, sudah sangat mereka hapal. Jukung yang dipergunakan pun sama seperti biasa, hanya berukuran sekitar empat depa. Tapi entah kenapa di hari naas itu, jukung yang dimuati lima orang serta berbagai keperluan rumah tangga dan bahan berjualan, terbalik.

Bukit Tangkiling Menyimpan Batu Pengapit Dosa



Menyusuri daerah perbukitan di kawasan Kotamadya Palangkaraya, tidak lengkap rasanya bila belum mendaki bukit yang satu ini, Bukit Tangkiling. Letaknya jauh dari pusat kota, persisnya Jl Tjilik Riwut Km 32 arah luar kota. Dari segenap penjuru memandang, nampak bukit yang rimbun ditumbuhi pepohonan.

Untuk memasuki areal kaki bukit, dari Kelurahan Banturung harus menempuh jarak 1600 m lagi. Jangan dibayangkan kesulitan medan yang harus dilintasi menuju kaki bukit, karena bukan lagi jalan setapak, tapi jalan beraspal yang sesekali tergenang air bila hujan turun lebat. Kesulitan, baru terasa setelah berada di punggung bukit, jalan menanjak dan terjal terhampar di depan mata.

Bukit Tangkiling yang tingginya kurang lebih 500 m , dipercaya menyimpan berjuta legenda dan kekuatan magis. Berdiri kokoh, menjulang langit di perbatasan Kelurahan Banturung-Tangkiling Kecamatan Bukit Batu, Palangkaraya. Perlu waktu kurang lebih 40 menit untuk mencapai puncaknya.

Batu Kapit Dosa

Konon, dahulu, daerah sekitarnya berupa sungai, seluas mata memandang, yang tampak air semata. Mirip cerita si Malin Kundang, sang anak durhaka, Tangkiling pun, dikutuk karena kedurhakaannya. Berubahlah sungai tempatnya berlayar menjadi daratan dan perbukitan. Sedang perahu dan seluruh barang bawaannya, berubah menjadi batu-batuan yang besarnya sebesar rumah-rumahan.

Tangkiling sendiri, karena dosa-dosa yang disandangnya, harus rela terjepit diantara biliknya, sekarang dikenal dengan batu pengapit dosa. Memang, batu kapit dosa, dipercaya, berasal dari bilik Tangkiling yang turut diterbangkan angin dan kemudian berubah membatu seperti benda lainnya.

"Bila orang bersangkutan ada dosa, maka tidak bisa melewati antara dua batu itu, terjepit," ungkap Aisyah-sebut saja begitu namanya- seorang penduduk Kelurahan Tangkiling yang kerap mendaki bukit bersama keluarganya. Dia mengaku, apa yang barusan dipaparkannya, berdasar kepercayaan yang mereka terima turun temurun.

Dulu pun, menurutnya, ada semacam upacara penghormatan atau ritual yang dilakukan dekat batu itu, fungsinya meminta pengampunan atas dosa yang telah dilakukan. Sesaji turut dihadirkan, terhampar bermacam kue tradisional dan kemenyan yang menyengat hidung.

"Kita baca doa sesuai agama kepercayaan yang kita anut," imbuhnya.

Apakah sudah ada yang terjepit disana? Sambil tertawa, dikatakannya, sepengetahuan dia, memang belum pernah terjadi, kecuali karma yang menimpa Tangkiling, hingga terjepit diantara dua batu itu.

"Mungkin, karena zamannya sudah berubah, kekuatan itu tidak pernah dinampakkan lagi," tukasnya. Meski begitu, menurutnya, kepercayaan akan kekuatan magis batu itu, masih beredar dan dipercaya masyarakat. Nyatanya, beberapa kecelakaan, pernah terjadi di seputar bukit Tangkiling.

Mengenai kepercayaan ini, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi kalteng Drs H Nawawi Mahmuda, menilai, itu hanyalah fenomena atau peristiwa alam belaka. Dan, tidak ada keterkaitannya dengan kekuatan magis atau supranatural.

"Artinya memang murni fenomena alam, tidak ada kaitannya dengan kekuatan magis atau supranatural," tegasnya.

Kepercayaan ini dibuktikan sekelompok pelajar dari sebuah SMU di Palangkaraya. Mereka menghabiskan akhir pekannya mendaki bukit, mau tidak mau, mereka harus memiringkan tubuhnya agar tidak terjepit di antara dua batu itu. Hasilnya? Mereka sampai ke puncak dan kembali lagi dengan selamat.

Dilihat dari jarak antara kedua batu yang berkisar 15 sentimeteran, terletak di punggung bukit, memang agak sulit untuk melewatinya, harus memiringkan tubuh. Di bawah batu sendiri, ternyata ada rongga atau ruang kosong, sehingga bila kita melangkah diatasnya, terasa ada suara langkah, bergema.

Kiri kanan, jalan yang dilewati, bukanlah dataran, tapi jurang yang menganga cukup dalam. Jadi, kehati-hatian adalah modal yang harus dimiliki.

"Kalau menengok ke bawah, hati rasanya rawan," imbuh Aisyah yang memiliki warung teh di Pelabuhan Tangkiling.

Sedang Juhran mantan pegawai Komunikasi Radio di Kelurahan Banturung, menuturkan, di Bukit Tangkiling terdapat bermacam-macam batu, batu pengapit dosa hanyalah salah satunya. Disebutnya pula, batu banama, batu cincin dan batu kawah yang terletak di puncak bukit.

Batu kawah, dipercaya sebagai jelmaan perahu Tangkiling yang karam, kemudian membatu. Batu kawah, oleh masyarakat sekitar dikenal pula dengan sebutan batu rinjing, karena bentuknya yang menyerupai rinjing atau wajan.

"Waktu masih bertugas, saya tiap hari naik bukit. Karena di atas bukitlah tempat paling efektif menyampaikan dan menerima informasi, suaranya terdengar lebih jelas," paparnya.

Kelabang Raksasa

Kepercayaan masyarakat lagi, menurut penuturan Aisyah, di sekitar batu kapit dosa, bermukim seekor kelabang raksasa, berukuran sebesar batang pohon kelapa.

"Bahkan, selain batu kapit dosa, disana ada juga halilipan (kelabang-red) sebesar batang nyiur (kelapa-red)," ujarnya yang berasal dari hulu Sungai Barito ini. Namun, sama halnya dengan batu kapit dosa, kelabang raksasa ini tidak pernah lagi menampakkan dirinya, raib seperti di telan bumi.

"Masa yang sudah berubah, membuat mereka tidak pernah lagi menampakkan diri," ungkapnya beralasan.

Persis seperti penuturan Aisyah, setiba kembali di base camp, dalam guyuran hujan lebat, sekelompok anak sekolahan tadi dikejutkan jeritan salah seorang temannya. Sontak, orang-orang yang berada di situ terkesiap, ternyata cowok ABG itu digigit kelabang sebesar jempol tangan.

Memang, kelabang termasuk binatang merayap yang memiliki bisa (racun). Racunnya bisa menyebabkan badan meriang, berkepanjangan.

"Jangan-jangan, kelabang ini, cucunya kelabang raksasa yang pernah diceritakan itu, lepas dari jepitan batu pengapit dosa, eh, malah digigit cucunya kelabang raksasa," celetuk mereka bersahutan.

Kyai Gede Kotawaringin Kharismanya Setara Datuk Kalampayan

Makamnya di Kecamatan Kotawaringin Lama, selalu diziarahi. Dialah Kyai Gede, tokoh penyebar agama Islam di Kab Kotawaringin Barat yang kharismanya setara Syekh Arsyad Al Banjary atau Datuk Kalampayan di Kalsel.

Bila ke Pangkalan Bun, rasanya orang tidak akan lengkap bila tak singgah di tempat satu ini, makam Kyai Gede alias Abdul Qadir Assegaf. Terutama pada hari Jumat, makamnya ramai dikunjungi orang, dari dalam maupun luar kota. Tujuannya, tidak lain berziarah sembari memanjatkan doa. Bedanya, di sekitar lokasi tidak tampak peminta-peminta, hanya warung-warung penjual makanan kecil yang akan meyambut para peziarah.

Sebagaimana Kalampayan, maka tidak pas rasanya kalau tidak berziarah ke tempat ini. Tapi memang tak seramai di Kalampayan, meski kharismanya menurut orang-orang yang pernah berziarah ke sana, tidak kalah dari Datuk Kalampayan.

"Sama saja, kalau ke Banjarmasin kita pasti menyempatkan ke Kalampayan, tidak pas rasanya kalau ke Pangkalan Bun tidak menyempatkan ziarah ke makam Kyai Gede," aku Badariyah, seorang ibu asal Kotawaringin Lama.

Kyai Gede adalah tokoh mula-mula penyebar agama Islam di Kotawaringin. Walau kini telah lama tiada, pengaruhnya dalam kehidupan, sangat dirasakan masyarakat setempat. Terbukti 90 persen lebih penduduk Kab Kobar, beragama Islam dengan tradisi Islam yang kental. Dan berdasar catatan sejarah, semasa pemerintahan Raja Kotawaringin pertama Pangeran Adipati Anta Kasuma, Kyai Gede menduduki jabatan Mangkubumi kerajaan.

Kondisi keberislaman masyarakat Kotawaringin pun akhirnya berimbas pada kebijakan penjajah Belanda menyebarkan misi zending, pasca ibukota kerajaan pindah dari Kotawaringin ke Pangkalan Bun.

Seperti pernah diungkap Ketua MUI Kalteng KH Haderanie HN, keputusan karesidenan Belanda membagi daerah menjadi beberapa wilayah keagamaan, Kapuas dan Barito termasuk daerah kegiatan operasi Kristen Protestan. Sedang Kotawaringin adalah kesultanan termasuk Pangkalan Bun yang dikuasai Sultan beragama Islam, sehingga termasuk daerah penyebaran agama Islam.

Makamnya Tiga Meter

Komplek makam yang tidak jauh dari komplek Astana Al Noorsari, nampak tak berbeda dari kubah lainnya yang mungkin pernah kita saksikan. Namun yang satu ini terlihat kokoh dan permanen, karena baru direnovasi. Tambahan, begitu memasuki ruangan, kita pasti langsung terkesima.

Bagaimana tidak, antara dua makam yang terdapat di dalam kubah, ada perbedaan yang sangat mencolok menyangkut ukuran. Jika yang satunya berukuran normal, lainnya memiliki panjang hampir tiga meter. Dan makam berukuran lebih panjang inilah tempat persemayaman terakhir Kyai Gede, tokoh penyebar agama Islam di Kotawaringin.

"Kuburannya memang panjang sekali, tidak seperti orang pada umumnya, sekitar tiga meteran. Sedang kubur yang satunya adalah makam salah seorang pengikut setianya," ujar pengurus kubah, Abdullah Sani.

Itu pun imbuhnya, berdasar cerita posisi tubuh Kyai Gede saat dimasukkan dalam peti dan liang lahat, harus dilipat sampai tiga kali agar muat. Bahkan seperti penuturan Ahmad Yusuf (60 th) pemelihara Astana Al Noorsari, jarak antara kedua puting susu Kyai Gede tidak kurang dari tujuh kilan atau setara 1,5 meter.

Itulah, karena ukuran tubuhnya yang tinggi besar, masyarakat percaya kalau Masjid Djami Kotawaringin yang hingga kini masih berdiri kokoh, adalah buah adi karya Kyai Gede.

"Masjid Djami berdasar cerita dibangun Kyai Gede di pedalaman, kemudian dibawanya langsung sendiri ke Kotawaringin," papar Abdullah Sani.

Tokoh penyebar agama Islam yang hidup semasa dengan raja pertama Kotawaringin, Pangeran Adipati Anta Kasuma, memperkenalkan Islam hingga ke pedalaman dan hulu-hulu sungai. Bahkan menurut buku "Sekilas mengenang lahirnya Kerajaan Kotawaringin dan Kabupaten Kotawaringin Barat" yang diterbitkan Humas dan Penerangan Setwilda Kobar 2001, Kyai Gede sudah lebih dahulu berada di daerah ini ketika Pangeran Adipati dan rombongan masih berusaha membangun kota baru.

Berdasar penuturan Gusti Rasyidin yang masih keturunan Raja Kotawaringin ke VII Gusti Sultanul Baladuddin Gelar Pangeran Ratu Begawan, Kyai Gede juga dianggap berperan dalam proses pembentukan dan pendirian kerajaan.

"Menurut Kyai Gede, biar rakyat tidak membayar upeti lagi ke Kerajaan Banjar, baiknya mereka mendirikan kerajaan atau kesultanan," ujar Rasyidin. Dan peran Kyai Gede oleh Pangeran Adipati sangat dihargai sehingga kemudian menduduki jabatan sebagai Mangkubumi kerajaan hingga wafatnya yang diperkirakan tahun 920-an H.

Dua Versi

Namun menyangkut asal muasal Kyai Gede, ada dua versi sejarah yang sampai ke masyarakat. Versi pertama persis seperti yang dipercaya masyarakat umum dan disampaikan Abdullah Sani juga tertera di dalam kubah, mengatakan Kyai Gede berasal dari Demak dan masuk ke Kotawaringin tahun 1595. Versi lainnya, tokoh ini murni penduduk asli Kotawaringin, bukannya berasal dari Demak.

Berdasar catatan sejarahnya, Abdullah Sani memaparkan kalau Kyai Gede adalah ulama yang berasal dari Demak. Namun karena sikap membangkangnya, akhirnya diusir dan dibuang dari kerajaan. Oleh Raja Demak ketika itu, Kyai Gede beserta pengikutnya dilarang melakukan peperangan pada hari Jumat.

Namun perintah raja ini malah tak diindahkan. Ketika melakukan peperangan, pasukannya kalah. Akhirnya dia harus menanggung konsekuensinya, di buang jauh dari kerajaan dan akhirnya terdampar di Kerajaan Banjar setelah sebelumnya sempat melalui Gresik.

Pada masa itu, kerajaan Banjar dibawah kekuasaan Pangeran Suriansyah yang sebelum masuk Islam bergelar Pangeran Suryanata. Oleh Pangeran Suriansyah, Kyai Gede dengan didampingi khatib Dayan diutus untuk menyebarkan Islam ke Kotawaringin Barat, kala itu tahun 1595 M.

Dengan pengikut tak kurang dari 40 orang disertai khatib Dayan, berangkatlah Kyai Gede menyusuri Sungai Arut hingga ke pedalaman Sungai Lamandau dan Balantik, Nanga Bulik, Sukamara. Dalam perjalanannya menyebarkan Islam, akhirnya Kyai Gede bertemu dengan Pangeran Adipati Anta Kasuma putra Sultan Musta'inubillah Raja Kerajaan Banjar. Selanjutnya berdirilah kerajaan Kotawaringin dengan Kyai Gede sebagai Mangkubumi pertamanya mendampingi Pangeran Adipati Anta kasuma.

"Ini dapat dibuktikan dengan adanya tulisan berbahasa Jawa yang tertera pada beduk yang ada di Masjid Djami Kotawaringin," jelas Abdullah Sani.

Sementara versi lain, seperti dipaparkan Gusti Djendro Suseno, Kyai Gede tidak lain adalah Kyai Gade putra asli Kotawaringin, bukan berasal dari Demak. Dari catatan sejarah yang dimilikinya, Kyai Gade dan Pangeran Adipati Anta Kasuma keberadaannya tidaklah sejaman.

"Berabad-abad jaraknya, dan ini bisa dibuktikan dengan penelusuran sejarah mulai Sultan Suriansyah berkuasa yang kemudian katanya mengutus Kyai Gede ke Kotawaringin," jelas Djendro Suseno. Dan dia tak menampik kalau Masjid Djami Kotawaringin dapat dijadikan bukti keberadaan Kyai Gede atau Gade. Masjid yang menurutnya memang dibangun Kyai Gede, benar memiliki sebuah beduk bertuliskan huruf Jawa.

"Kebetulan saya bisa membaca huruf Jawa, dan terbukti kalau Kyai Gade tidaklah sejaman dengan Pangeran Adipati Anta Kasuma, Raja pertama Kerajaan Kotawaringin," ujar Djendro yang juga masih keturunan Kerajaan Mataram dari garis ibu.

Dan bukti lain lanjutnya, berdasar kebiasaan, seorang ulama atau penyebar agama Islam di daerah ini biasa disebut "Syekh". Sedang gelar Kyai biasa diperuntukkan bagi seseorang yang memiliki keahlian atau ilmu di bidang tertentu.

Di belakang makam Kyai Gede pun menurut Djendro, terdapat semacam batu pemujaan terhadap nenek moyang atau menhir. Menhir ini sebagai petunjuk bahwa dahulunya Kyai Gede adalah orang Kotawaringin yang dulunya juga penganut agama nenek moyang. Sejalan perubahan waktu, batu pemujaan ini pun mengalami perubahan nama sesuai dengan orang-orang sekitarnya.

"Orang penganut agama nenek moyang menyebut lain dan yang beragama Islam menyebut lain juga sesuai keyakinannya. Padahal obyeknya sih sama saja," tandasnya.

Keberadaan Kyai Gede sebagai penduduk asli Kotawaringin semakin diperkuat dengan banyaknya peziarah bukan dari kalangan muslim semata, tapi juga dari penduduk yang bukan beragama Islam. Yang menurut Djendro Suseno, tentu ini mereka lakukan karena merasa memiliki hubungan darah dengan beliau.

--------------------------------------------

Nama Beliau Abdul Qadir Assegaf

Berdasar pengetahuan yang dimilikinya, Abdullah Sani begitu meyakini kalau sesungguhnya tokoh penyebar agama Islam di Kotawaringin ini, memang berasal dari Demak, lain tidak.

"Beliau yang bernama asli Abdul Qadir Assegaf berasal dari Demak, kemudian ke Gresik dan langsung ke Kerajaan Banjar," ujar Abdullah Sani, sembari menunjukkan peta perjalanan Kyai Gede yang terdapat di dalam kubah. Ketika ditanya apakah Kyai Gede memiliki keturunan, Abdullah Sani yang baru beberapa bulan lalu menggantikan penjaga makam yang telah meninggal, Kyai Gede sendiri sepengetahuannya, begitu meninggalkan Demak dan menjejakkan kakinya di Kotawaringin, tidak pernah lagi melangsungkan pernikahan.

"Istri beliau ya Nyai Gede dan tetap berada di Demak ketika Kyai Gede di buang dan kemudian terdampar di Kerajaan Banjar," tukasnya sembari menyanggah kalau Kyai Gede pernah melangsungkan pernikahan dengan penduduk setempat.

Sedang keberadaan Kyai Gede selanjutnya, menurut Abdullah, bersama Khatib Dayan dan 40 orang pengikut, oleh Sultan Suriansyah diperintahkan menyebarkan agama Islam ke arah Barat yaitu Kotawaringin. Hingga akhirnya bertemu Pangeran Adipati Anta Kasuma yang ingin mendirikan kerajaan dan berdirilah Kerajaaan Kotawaringin tahun 1598 M.

"Ini dapat dibuktikan dengan adanya tulisan berbahasa Jawa yang tertera pada beduk yang ada di Masjid Djami Kotawaringin," jelas Abdullah Sani.

Menguak Sejarah Kesultanan Kotawaringin

Kesultanan Kotawaringin, satu-satunya kerajaan yang pernah ada di Prop Kalteng, bahkan masih terpelihara dengan baik. Bahkan semasa penjajahan Belanda, daerah ini luput dari rencana pengkristenan Dayak Besar. Hingga kini kita dapat melihat dan menyaksikan situs beserta benda-benda peninggalannya. Ternyata pendiriannya bermaterai darah manusia, termaktub dalam Panti Darah Janji Samaya.

Menyusuri Sungai Arut sepanjang ratusan kilometer yang membelah Kota Pangkalan Bun, sampailah kita di Kecamatan Kotawaringin Lama dengan Astana Al Noorsari-nya yang masih berdiri kokoh. Astana Al Noorsari adalah cikal bakal Kesultanan Kotawaringin sebelum pusat kekuasaannya pindah ke Pangkalan Bun tahun 1679 M/1171 H.

Di daerah ini, kita juga masih akan menemukan catatan sejarah lainnya. Terdapat makam Sultan-sultan Kotawaringin yang bertulisan huruf Arab Melayu, makam Kyai Gede seorang tokoh penyebar agama Islam sekitar abad ke 16. Kita juga dapat menemukan bangunan Masjid Djami Kotawaringin yang masih terbilang kokoh, meski hampir seusia ketika Kyai Gede menyebarkan Islam di daerah ini.

Dan, menapak tilas satu-satunya kerajaan yang pernah ada di propinsi Kalteng ini, memerlukan waktu cukup panjang, satu setengah jam dari Kota Pangkalan Bun dengan transportasi speed boat. Tak cuma itu, karena membicarakan Kesultanan Kotawaringin yang masih memiliki benang merah dengan kerajaan Banjar, tidak boleh tidak harus merunut sejarah kerajaan Banjar hingga kekuasaan Belanda turut bercokol di daerah ini.

Seperti dituturkan Gusti Djendro Suseno yang masih keturunan Raja ke VII Gusti Sultanul Baladuddin Gelar Pangeran Ratu Begawan, keturunan Raja Banjarlah yang mula pertama membangun Kesultanan Kotawaringin.

"Kesultanan Kotawaringin memiliki benang merah sejarah sangat kuat dengan Kerajaan Banjar, hal itu tak dapat dinafikan," ungkap Djendro Suseno yang juga anggota DPRD Tk II Kotawaringin Barat dari Fraksi Golkar. Namun dalam perjalanan selanjutnya, tak terelakkan terjadi asimilasi atau percampuran dengan masyarakat setempat yang notabene adalah Suku Dayak.

Jadi menurutnya, tak dapat dipungkiri, masyarakat yang kini bermukim memenuhi seantero Kab Kotawaringin Barat, sebagian besar adalah juga anak cucu keturunan Suku Dayak. "Untuk mempererat jalinan kerjasama dan memantapkan kekuasaan, kala itu anak-anak kepala suku atau demang diambil sebagai istri mendampingi sang raja walau posisinya bukan sebagai istri pertama," imbuhnya.

Pangeran Adipati Anta Kasuma

Adalah Sultan Musta'inubillah Raja Kerajaan Banjar yang berputra lima orang, diantaranya empat orang laki-laki yaitu Pangeran Adipati Tuha, Pangeran Adipati Anum, Pangeran Antasari (Pahlawan Nasional), Pangeran Adipati Anta Kasuma dan Puteri Ratu Aju. Karena masing-masing Putra Mahkota berminat menjadi Sultan sebagai pemegang tertinggi tampuk kerajaan, membuat sang ayah harus berpikir bijaksana.

Akhirnya, merasa bukan putra tertua, Pangeran Adipati Anta Kasuma yang memiliki keberanian dan semangat tinggi untuk menjadi seorang pemimpin, bertekat pergi mencari tempat dan mendirikan kerajaan baru. Dan memang, Pangeran Adipati Tuha lah sebagai putra tertua yang akhirnya memegang tampuk kekuasaan kerajaan Banjar.

Dengan restu kedua orang tua serta pejabat-pejabat Kerajaan Banjar, berangkatlah dia beserta pengawal dan beberapa perangkat peralatan kerajaan. Menggunakan perahu layar kerajaan, bertolaklah mereka menuju arah barat menyusuri pesisir pantai. Di sepanjang jalan yang mereka lalui, banyak tempat yang disinggahi antara lain Teluk Sebangau, Pagatan Mendawai, Sampit dan Kuala Pembuang.

Rombongan Pangeran Adipati meneruskan pelayaran ke arah barat, sampai akhirnya mendarat di sebuah daerah, dinamakan Kuala Pembuang. Daerah ini sudah ada penghuninya yang juga berkiblat di bawah kepemimpinan Kerajaan Banjar, sehingga kehadiran rombongan yang bermaksud mendirikan kerajaan baru ini ditolak oleh masyarakat setempat.


Panti Darah Janji Samaya

Tanpa mengenal putus asa, dengan semangat tinggi rombongan Pangeran Adipati kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini, perjalanan tidak lagi menyusuri pantai tapi menuju hulu sungai hingga akhirnya sampai ke sebuah desa yang dinamakan Desa Pandau. Walau Desa Pandau telah dihuni masyarakat Suku Dayak yang dikenal dengan Suku Gambu, Arut, Anom dan lainnya sebanyak sembilan macam suku, di bawah kepemimpinan Demang Petinggi di Umpang menerima kehadiran rombongan Pangeran Adipati.

Seperti juga tertulis dalam catatan sejarah "Sekilas mengenang lahirnya Kerajaan Kotawaringin dan Kabupaten Kotawaringin Barat" yang diterbitkan Humas dan Penerangan Setwilda Kobar 2001, Demang Petinggi sebagai kepala Suku Dayak menyerukan pada rakyatnya agar menerima rombongan Pangeran Adipati. Seruan Demang Petinggi ini didasarkan keinginan untuk mengangkat Pangeran sebagai raja tapi dengan syarat raja harus memperlakukan mereka bukan sebagai hamba, tetapi sebagai pembantu utama dan kawan terdekat atau sebagai saudara yang baik. Rakyat tidak akan menyembah sujud kehadapan Pangeran Adipati.

"Usulan ini ditimbang dan diterima baik oleh Pangeran dan seluruh rombongan," ujar Djendro diiyakan Gusti Rasyidin yang juga anak keturunan kesultanan ini. Selepas persetujuan itu, dari pihak Suku Dayak Arut mengusulkan agar perjanjian ini bukan sekedar di bibir saja, melainkan harus bermaterai darah manusia yang diambil dari seorang dari Suku Dayak Arut dan seorang dari rombongan Pangeran Adipati Anta Kasuma.

"Perjanjian itu dinamakan Panti Darah Janji Samaya yang berarti perjanjian yang dikokohkan dengan tetesan darah yang bercampur jadi satu," ungkap Gusti Rasyidin yang ketika wawancara berlangsung ditemani Nurhadi dan Ahmad Yusuf di Astana Al Noorsari Kotawaringin Lama.

Dengan tersendat-sendat, coba dia paparkan bagaimana perjanjian bermaterai darah itu berlangsung. Menurutnya, memang agak sukar diterima oleh akal, hanya demi sebuah janji harus mengorbankan dua manusia. Namun demikianlah adat yang berlaku, maka masing-masing kedua belah pihak menarik salah seorang pengikutnya untuk dijadikan korban perjanjian.

Sebelum kedua calon korban berdiri siap untuk dikorbankan, mereka mengambil sebuah batu yang harus ditancapkan ke tanah. Batu ini sebagai bukti atau perlambang turun temurun saksi sepanjang masa telah terjadi ikatan persaudaraan antara Suku Dayak dengan rombongan Pangeran Adipati dari Kerajaan Banjar. Dengan melakukan upacara adat yang hikmat, kedua calon korban berdiri di samping batu saksi yang kini dikenal dengan "Batu Pertahanan". Calon korban dari Suku Dayak berdiri menghadap ke hulu asal datangnya dan calon korban dari rombongan Pangeran berdiri menghadap ke hilir menunjukkan asal kedatangannya.

Selesai upacara sumpah setia, Kepala Suku Dayak mencabut mandaunya dan ditusukkan menembus ke dada korbannya, darah pun memancur deras. Korban dari pihak Pangeran Adipati pun ditusuk sehingga kedua darah korban ini memancur bersilang dan menetes jatuh menjadi satu membasahi tanah.

"Percampuran darah yang disaksikan kedua pihak inilah yang dimaksudkan untuk mempersatukan segala rasa dan pikiran dalam mewujudkan rencana bersama, membangun kerajaan," imbuh Rasyidin.


Terbentuk Kerajaan

Meski telah disepakati perjanjian antara kedua belah pihak, namun Desa Pandau masih dianggap belum cocok untuk membangun kerajaan baru. Kedua rombongan yang telah terpadu dalam "Panti Janji Darah Samaya" milir mengikuti aliran Sungai Arut, kemudian mudik Sungai Lamandau, mencari daerah paling pas untuk membangun kerajaan. Akhirnya, sampailah mereka di daerah yang meyakinkan yaitu Tanjung Pangkalan Batu yang kemudian hari dikenal sebagai Kotawaringin Lama. Berhentilah rombongan dan untuk beristirahat mereka membuat rumah di atas air yang biasa disebut "lanting".

"Ketika Pangeran Adipati naik ke darat, bertemulah dia dengan Kyai Gede seorang ulama penyebar agama Islam yang sudah lebih dulu tinggal di daerah itu," papar Rasyidin. Dan menurutnya, atas usulan Kyai Gede jugalah masyarakat sekitar yang dipimpin kepala suku, tidak perlu lagi membayar upeti ke Kerajaan Banjar, tapi ke Pangeran Adipati Anta Kasuma yang memimpin langsung Kerajaan Kotawaringin sebagai raja pertamanya.

Kerajaan Kotawaringin yang berbasis Islam dengan didukung Kyai Gede sebagai Mangkubumi kerajaan, sebagaimana dipaparkan Gusti Djendro Suseno melakukan pencampuran dengan masyarakat suku asli yang masih menganut agama nenek moyang dan ini berlangsung hingga raja-raja berikutnya. Tercatat raja-raja yang berkuasa setelah kepemimpinan Pangeran Adipati Anta Kasuma. Pangeran Mas Adipati putra Pangeran Anta Kasuma yang menggantikan ayahndanya setelah wafat, berkuasa dari 920-941 H. Kemudian Pangeran Panambahan Anum (942-975 H), Pangeran Prabu Anum (975-1005 H), Pangeran Adipati Anum (1005-1050 H), Pangeran Penghulu (1050-1069 H), Gusti Sultanul Baladuddin Gelar Pangeran Ratu Begawan (1069-1116 H), Gusti Musaddam Gelar Pangeran Ratu Anum Kusuma (1116-1171 H).

Namun dalam perjalanan selanjutnya, ketika ibukota kerajaan pindah ke Pangkalan Bun di bawah kepemimpinan Pangeran Ratu Imanuddin, yang menurut Djendro Suseno, pemerintahannya sangat pro pada pihak Belanda. Sehingga hubungannya dengan orang-orang Kotawaringin Lama menjadi tidak harmonis, karena Kotawaringin lama sangat kontra dengan penjajah Belanda.

Setelah kepemimpinan Pangeran Ratu Muhammad Imanuddin, menyusul bertahta Pangeran Ratu Achmad Hermansyah (1265-1281 H), Gusti Muhammad Sanusi Gelar Pra kasuma Yudha (1265-1281 H), Pangeran Pakusukma Negara (1281-1325 H), Pangeran Samudra Gelar Pangeran Ratu Sukma Alamsyah (1325-1332 H) dan Pangeran Muhammad Gelar Pangeran Ratu Kasuma Anum Alamsyah (1332-1350 H).

"Pemindahan ibukota kerajaan ke Pangkalan Bun ini yang dijadikan sebagai titik tolak lahirnya Kabupaten Kotawaringin Barat, tahun 1679 M yang terbagi atas Kec Arut Selatan, Delang, Lamandau, Kotawaringin Lama, Arut Utara, dan Balai Lama," lanjutnya bernada miris karena sejarah yang sepertinya tidak berpihak pada pendahulunya.

Telaga Bidadari

Tempat Mandi Para 'Pencari Jodoh'

Mandi di Telaga Bidadari, dipercaya cepat mendatangkan jodoh. Dulu, itu adalah tempat mandi bidadari yang menjadi cikal bakal penduduk desa itu.
Nama Telaga Bidadari tak asing bagi warga Kalimantan Selatan (Kalsel), terutama warga Kota Dodol, Kandangan. Selain daerah itu merupakan sentra pengrajin dodol, juga penduduknya dikenal bungas-bungas.

Sehingga tidak mengherankan, menurut Syahril, banyak orang luar dari desa-desa tetangga mengambil menantu dari Telaga Bidadari.

"Istri saya juga orang sana, orangnya memang putih dan cantik," aku Pengawas TK dan SD Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) ini sembari tertawa.

Menurut Syahril, hal itu tidak lepas dari legenda

yang beredar di masyarakat. Berdasar cerita, penduduk Telaga Bidadari merupakan keturunan bidadari, hasil pernikahan Datuk Suling atau Datuk Unjum dengan bidadari. Telaga atau sumur itu, merupakan tempat mandi para bidadari.

"Ceritanya hampir mirip cerita Jaka Tarub di Jawa, yang mengawini bidadari Nawang Wulan," kata Syahril pada Siti Hamsiah dari Serambi UmmaH.

Mitos lainnya, banyak orang datang ke Telaga Bidadari karena ingin enteng jodoh. Dipercaya turun temurun, siapa yang mandi di telaga tersebut, laki-laki atau perempuan, akan cepat mendapat jodoh.

Nining Masja, warga Telaga Bidadari adalah salah seorang yang biasa memandikan. Nenek berkulit putih yang wajahnya masih menampakkan gurat-gurat kecantikan itu, telah melakoni hal itu sejak berpuluh tahun lalu.

Tujuan mereka yang datang, diakuinya, tidak lain agar cepat mendapatkan pasangan hidup. Seperti yang sudah-sudah, rata-rata keinginan mereka terkabul.

Namun dua tahun terakhir, nenek yang telah berusia 80-an tahun dan dikaruniai dua orang anak ini tak dapat lagi melaksanakan tugasnya.

"Nining sakit kaki, jadi sekarang yang memandikan H Hamran dan istrinya," beber nining Masja sembari memperlihatkan gigi-giginya yang sebagian sudah ompong.

Ditutup Tembok

Sesuai namanya, Telaga Bidadari terletak di Desa Telaga Bidadari, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten (HSS). Hanya berjarak enam kilometer dari ibukota kabupaten, Kandangan. Desa Telaga Bidadari merupakan salah satu diantara 18 desa di Kecamatan Sungai Raya.

Telaga tersebut juga sudah masuk dalam deretan daftar obyek wisata andalan HSS. Untuk mencapainya relatif mudah, karena dapat dilewati kendaraan roda dua dan roda empat.

Di depan jalan masuk menuju Desa Telaga Bidadari, telah pula dibuatkan gapura.

Namun sayangnya, bayangan telaga yang tenang, jernih, berada di bawah rerimbunan pepohonan dan ditingkahi suara burung-burung, seakan sirna begitu sampai di lokasi.

Dinas terkait di Kabupaten HSS, beberapa tahun lalu telah menyemen dan memagar telaga sehingga menyerupai kolam berpagar tembok. Tujuannya menjaga keberlangsungan air di telaga tersebut, agar tidak erosi, tidak kering dan airnya tetap jernih.

Bagi yang ingin mandi, di samping telaga disediakan bangunan beratap dan berdinding kayu. Air diambil secukupnya menggunakan ember, tidak langsung mandi di dalam telaga.

Anehnya, seperti diceritakan Nining Masja, sejak dulu air telaga juga tidak pernah kering sekalipun di musim kemarau.


Nuansa Mistis

Pada saat proses penyemenan Telaga Bidadari, cerita nining Masja, terjadi hal-hal aneh. Para pekerjanya, rata-rata tidak mempercayai hal gaib di sekitar telaga tersebut.

Akibatnya, ketika akan mengeringkan telaga, dua buah pompa penyedot yang digunakan tidak berfungsi. Mesinnya jalan, tapi airnya tidak bisa disedot. Otomatis berhari-hari upaya penyemenan tidak dapat dilakukan, karena airnya tidak dapat disedot.

Di tengah kebingungan, salah seorang pekerja mendatangi rumah nining Masja yang berjarak hanya beberapa langkah dari telaga. Lalu diceritakannya apa yang terjadi.

Nining Masja meminta agar diadakan selamatan terlebih dulu, menyediakan bubur habang (merah), bubur putih, kue-kue seperti cucur, tape, serta air putih, kopi pahit dan kopi manis. Kemudian dibacakan doa selamat, dan makanan minuman itupun dimakan bersama-sama.

"Alhamdulillah pekerjaan berjalan lancar, air pun langsung menyembur dari kedua mesin tersebut," beber nenek yang daya ingatnya masih tajam ini.

"Kita tidak bisa mendustakan hal-hal gaib seperti itu, karena memang ada, sama-sama makhluk Allah," tandasnya.