03 December 2008

Keampuhan Air Mengatasi Aneka Penyakit


Air sejak dahulu diyakini memiliki kekuatan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Bahkan air zam‑zam memiliki keistimewaan yang disebut dalam hadis Nabi:"Dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik‑baik air di muka bumi ialah air zam‑zam. Ia merupakan makanan yang mengenyangkan dan penawar bagi penyakit" (HR At Tabrani dan Ibnu Hibban).

Keunikan bentuk dari air zam‑zam pernah diteliti oleh Dr Masaru Emoto, seorang peneliti dari Jepang. Air zam‑zam yang telah dibekukan, dipotret di bawah foto miskroskopik. Dalam risetnya, Masaru menemukan sebuah bentuk kristal yang menawan dari air zam-zam. Profesor Kowshak, seorang peneliti air zam‑zam mengatakan, "Air zamzam mengandung banyak zat tinggi kalsium, magnesium, dan mineral lainnya."

Pemanfaatan air sebagai medium penyembuhan lewat air yang diberi doa sudah ada sejak lama. Hal ini tegaskan Dr Lynard Merfin. Peneliti ini mengatakan, pemanfaatan air mineral dalam proses penyembuhan berbagai penyakit khususnya rematik, pernah menjadi tren selama beberapa abad. Metode penyembuhan lewat air masih dirawat di pesantren‑pesantren tradisional. Selain untuk penyembuhan berbagai macam penyakit, terapi air juga digunakan para korban narkoba.

Etika air

Yang dimaksud dengan terapi penyembuhan dengan air adalah aneka cara pemakaian air demi tujuan pengobatan. Tugas utama air di sini adalah untuk memompa suhu panas dan dingin kepada tubuh, hingga secara perlahan terjadi peringatan mekanis dan kimiawi yang berdampak positif.

Banyak manfaat yang bisa didapatkan dari terapi air, diantaranya untuk pengobatan beberapa penyakit yang terkait dengan sirkulasi darah, rematik, sistem saraf, kulit, dan lainnya. Namun bagaimana etika minum air, turut menentukan hasilnya.

Meminum air secara cepat dan terburu‑buru, akan menyebabkan masuknya angin ke dalam lambung dan akan berlanjut ke usus hingga dapat menyebabkan perut kembung.

Rasulullah bersabda:"Apabila seorang dari kalian akan minum, hendaknya ia meneguk air dengan beberapa tegukan dan tidak meminumnya dengan tergesa‑gesa, karena sesungguhnya penyakit liver itu berasal dari tegukan yang tergesa‑gesa."

Terlalu banyak minum di sela‑sela makan akan mengakibatkan turunnya nafsu makan.

Air memang memiliki arti penting bagi kehidupan manusia. Lafazh "Air" di dalam Alquran diulang sebanyak 63 kali.

"Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Mahakuasa." (QS Al Furqan:54).

Baju Barajah: Senjata Magis Pejuang Tempo Doeloe

Selain jimat, baju barajah pada jaman revolusi fisik banyak digunakan pejuang untuk melindungi diri. Pembuatannya pun tak mudah, harus melalui proses tirakat. Karenanya, barangsiapa yang mengenakan dipercaya taguh kana atau pelurunya yang baliung (berbelok). Sekarang fungsinya bergeser, agar dihormati dan orang jadi maras kasihan.
Baju barajah dan beberapa pernik jimat dalam salah satu etalase Museum Perjuangan Waja Sampai Kaputing, menjadi pemandangan yang cukup menarik. Diantara berbagai benda peninggalan sejarah lainnya, benda ini dipercaya memiliki kekuatan magis yang berfungsi melindungi diri dari serangan musuh.

Bahkan menurut cerita dari mulut ke mulut, orang memakai baju yang dipakai dibagian dalam ini, apabila kena peluru atau senjata apapun akan taguh (kebal). Ada pula yang mengatakan, peluru yang ditembakkan lawan akan baliung.

Pakaian dan senjata yang bersifat magis itu menurut penjaga museum Noransyah, digunakan karena melihat kondisi persenjataan yang berbeda jauh dan tidak seimbang dengan pasukan pemerintah kolonial Belanda. Para pejuang penegak kemerdekaan RI di Kalsel dengan berbagai upaya mengimbangi kekuatan persenjataan musuh.

"Untuk mengimbangi persenjataan dalam pertempuran melawan pasukan Belanda tersebut, para pejuang membuat berbagai pakaian dan senjata yang bersifat magis serta dilengkapi dengan berbagai jimat," jelasnya.

Sementara khusus baju barajah atau bawafak yang jadi koleksi museum, jumlahnya ada empat buah. Warnanya pun bermacam-macam, tak hanya putih tapi juga kuning dan hitam.

Seperti baju barajah milik seorang pejuang bernama Burhansyah atau Basindo berasal dari desa Gadung Kabupaten Tapin. Baju ini dirajah oleh Haji Muhammad dari desa Gadung Kab Tapin. Pada masa revolusi fisik, baju tersebut sering dipakai beliau baik pada saat aman maupun ketika bertempur melawan pasukan Belanda, karena diyakini mempunyai kekuatan magis.

Kemudian baju bawafak warna hitam yang bagian dalamnya berwarna hijau, milik komandan pasukan X 18 Samidri Duman dari Padang Batung Kab HSS. Pada masa revolusi fisik baju tersebut pernah difungsikan beliau dalam pertempuran garis demarkasi di desa Karang Jawa Kandangan pada tanggal 8 Agustus 1949.

"Baju ini diserahkan langsung oleh Samidri Duman tanpa sepengetahuan anak-anaknya. Sidin tidak ingin anaknya tahu, takut kalau merasa jago karena memilikinya," ujar.Drs H Sjarifuddin.

Baju milik pejuang H Hassan Abdullah dari Batakan Kab Tanah Laut. Rompi ini sering difungsikan pemiliknya ke medan-medan pertempuran melawan pasukan Belanda karena juga diyakini memiliki kekuatan magis.

Sedang baju barajah milik Nurdin bin Abdullah juga dari Batakan Kab Tanah Laut, dirajah oleh ulama asal Martapura H Ilmi. Sering dipakai pemiliknya baik dalam keadaan aman maupun ketika bertempur melawan pasukan Belanda pada masa Revolusi fisik.

"Mereka ini dalam berbagai pertempuran yang dijalani, alhamdulillah selamat dan mampu melindungi teman-temannya yang lain," imbuhnya.

Taguh Kana Baliung

Meski menurut Sjarifuddin pemilik baju barajah itu tak pernah menceritakan ketaguhannya ketika mengenakan baju itu, tapi cerita dari mulut ke mulut yang beredar memang sungguh menakjubkan. Betapa tidak, orang yang mengenakannya akan taguh kana atau baliung persenjataan yang mengarah padanya.

"Pejuang yang mengenakannya pasti kebal, menurut cerita yang beredar di masyarakat," elaknya.

Makanya, biasa orang yang memiliki baju ini selalu berdiri di depan karena dipercaya dapat menangkis serangan pasukan Belanda. Dan orang-orang yang berada di garis belakangnya, selamat sehingga dapat meneruskan perjuangan.

"Bila kena peluru, pelurunya mental dan ada juga yang pelurunya baliung tak mengenai sasaran," paparnya mengutip cerita yang dia dengar.

Pun sorban barajah milik orangtua H Salmah yang digunakan H Salmah pada pertempuran Batakan pada tanggal 13, 15 dan 16 April 1946. Dengan cara berdiri sambil mengibarkan surban disertai keyakinan, semua peluru yang ditembakkan pasukan Belanda menyasar ke tempat lain.

Namun seperti diakui Alian, pasca kemerdekaan pun ternyata masih banyak orang yang menggunakan meski latar belakangnya sama-sama pertempuran. Menurutnya era 70-an ketika banyak tentara di kirim ke Timor Timur (sekarang Timor Lorosae) untuk memulihkan keamanan, salah seorang yang berangkat adalah kenalannya di Amuntai, Dayat.

"Menurut ceritanya, dengan memakai baju barajah, beberapa kali peluru yang mengarah padanya baliung (berbelok) menyasar ke tempat lain," kata Alian.

Senada, Hj Zuhrah Hamzah pun sepakat kalau saat ini pun baju berajah masih ada yang menggunakan. Jika dulu fungsinya melindungi diri dari serangan senjata musuh, kini beralih agar orang menjadi maras kasihan dan hormat pada si pemakai.

"Yang melihat jadi hormat dan maras kasihan, keinginan tidak baik dari orang itu langsung sirna," jelasnya.

Menimbulkan Keberanian

Mantan Kepala Musium Lambung Mangkurat Banjarbaru, tak menampik kalau baju barajah pada masa perjuangan digunakan untuk menimbulkan keberanian. Keberanian itu sendiri bermakna memiliki kekebalan dan mampu menahan gempuran pasukan Belanda. Apalagi saat itu, persenjataan anak negeri benar-benar tak seimbang dibanding persenjataan pasukan Belanda.

"Segala daya dikerahkan, sampai menggunakan kekuatan yang punya unsur magis termasuk baju barajah itu," ungkap Sjarifuddin yang juga bertindak sebagai Ketua Tim pengumpulan benda-benda sejarah dalam pendirian Musium Perjuangan.

Baju barajah sendiri sepengetahuannya, dibuat tidak segampang yang dibayangkan. Karena ada ritual atau tirakat tertentu yang harus dilakoni dan hanya ulama yang dekat dengan Allah saja yang sanggup melakukannya, bukan sembarang orang.

"Ada yang sampai 40 Jum'at membuatnya dan yang membuat orang alim, bukan sembarang orang," tukasnya sembari mengaku lebih memilih tidak menggunakan benda-benda semacam itu karena dapat mengarah pada perbuatan syirik.


01 December 2008

Pendekar Muslimah dari Loksado

Jalanan berbatu, terjal dan mendaki yang mendominasi kawasan kecamatan Loksado, telah begitu akrab dalam keseharian Barniah. Demi dakwah, medan sulit itu hampir tiap hari dilaluinya selama lebih 10 tahun terakhir.

Taman Pendidikan Alquran (TPA) yang tersebar di beberapa desa seperti Halunuk, Panggungan, Malinau, Tumingki, Haratai, Lok Lahong, Kamalakan, merupakan lahannya mensyiarkan Islam. Meski santrinya tidak banyak, toh tak menyurutkan langkahnya.

Beruntungnya, beberapa tahun terakhir sudah ada beberapa desa yang jalannya sudah beraspal. Sehingga memudahkan menempuhnya dengan sepeda motor. Padahal dulu, untuk menuju desa Lumpangi dari Malinau yang berjarak 8 Km, dia harus berjalan kaki tak kurang dari dua jam.

Meski kondisi medannya mulai membaik, namun tetap masih banyak desa dan dusun yang harus didatanginya dengan hanya berjalan kaki. Karena selain cuma jalan setapak, medannya pun mendaki.

"Mulai Muara Ulang ke atas, itu jalannya masih sulit. Kadang bersepeda motor pun susah, karena jalannya terjal dan mendaki juga," aku Barniah.

"Mungkin agak sulit juga membayangkan, kalau tidak melihat langsung medannya," imbuh perempuan sederhana berkacamata minus ini sembari menerawang jauh.

Saking sulitnya medan yang harus ditempuh, apalagi bagi seorang perempuan, bahkan seandainya tubuh manusia ini seperti sepeda motor, lanjutnya, mungkin sudah banyak onderdilnya yang copot.

"Lha sepeda motorku saja sudah tak terhitung lagi berapa banyak onderdilnya yang copot, apalagi tubuh manusia yang setiap hari menjelajahnya," tukasnya dengan senyum sumringah.

Itu sepintas medannya, belum lagi tantangan dan kendala dakwah yang harus dihadapinya bersama sekitar 20-an orang tenaga PAI (Penyuluh Agama Islam) dan Jupen (Juru Penerang) lainnya. Bukan hanya dari masyarakat Dayak Loksado yang masih banyak memeluk agama nenek moyang, Kaharingan, tapi juga kalangan misionaris Kristen yang gencar menyebarkan agamanya.

Berdakwah di sana, lanjutnya, bukan semata menyampaikan ajaran Islam, namun harus mampu pula membangun benteng pertahanan dan strategi terhadap kelompok misi itu.

Hubungan orang Islam dengan penduduk yang masih menganut Kaharingan tidak ada masalah, bahkan banyak yang masih terikat hubungan darah, namun jadi memanas akibat provokasi orang luar.

"Kalau soal menyebarkan agama sih kita masih bisa terima, tapi mereka juga memprovokasi penduduk sehingga hubungan penduduk yang masih beragama Kaharingan dengan kalangan Islam menjadi panas," bebernya.

Hingga tak terhindarkan, main kucing-kucingan kerap terjadi. Apalagi menyangkut masalah mualaf, Barniah dan teman-temannya sering harus merelakan keselamatan dirinya sendiri terancam.

"Pulang tengah malam pukul 11 atau 12, itu biasa, apalagi kalau ada mualaf yang harus diungsikan karena keluarganya tidak terima. Jadi, kita ini harus siap 24 jam," ujarnya.

Dengan medan sulit itu, toh nyatanya masih jauh dengan penghargaan yang mereka terima. Sebagai tenaga PAI, dia hanya menerima Rp60 ribu per bulan, itu pun diterima per tiga atau empat bulan dengan potongan di sana-sini.

"Tapi, Alhamdulillah, nyatanya cukup saja. Mungkin Allah mencukupkannya dengan memberi rejeki dari sumber yang lain," ujar Barniah yang mengaku kerap dikasih beras dan hasil kebun lainnya oleh penduduk.

Seteru Keluarga

Beratnya medan dan tantangan dakwah di Loksado, sempat membuat semangat Barniah kendor juga. Tahun 1996, dia sempat terlibat masalah pelik menyangkut mualaf dan nyaris mengancam keselamatannya. Padahal pelakunya ini, tidak lain kerabatnya sendiri yang berbeda keyakinan.

Semua bermula dari keakraban Barniah dengan seorang anak perempuan berusia 11 tahun. Anak dari keluarga beragama Nasrani ini, saking manja dan akrabnya kemana-mana Barniah pergi selalu diikuti, ke masjid sekali pun. Malah, anak ini juga kerap bermalam menemaninya.

Lama-lama, rupanya Islam membuatnya tertarik. Kerap dia merengek-rengek minta diceritakan dan diajari tentang Islam. Sampai suatu hari ketika Barniah berniat turun ke Kandangan ke rumah orangtuanya dan kebetulan ada pertemuan di Masjid Quba, anak itu kembali merengek ikut. Keinginannya pun diluluskan Barniah.

Sungguh di luar dugaan yang terjadi kemudian di Kandangan. Di Anak perempuan kelas lima SD itu, kembali meminta untuk diislamkan. Bingung dan kaget, memenuhi rongga kepala Barniah. Namun melihat rengekan dan keinginan anak itu yang kuat, Barniah mencoba mengkonsultasikan sekaligus membawanya ke pertemuan di Masjid Quba.

Setelah ditanyai macam-macam, anak itu tetap teguh ingin berislam. Mau tidak mau anak itu akhirnya diislamkan, dengan pertimbangan orang yang benar-benar berniat ingin berislam tidak boleh dihalangi keinginannya.

"Rupanya anak itu sudah tidak ketahanan lagi, ya akhirnya dia diislamkan dihadapan teman-teman yang lain di Masjid Quba," cerita Barniah mengulang kisah lalu.

Ceritanya tak berhenti sampai disitu, karena sekembalinya anak itu ke rumah, semua jadi lain. Ceritanya berkembang kalau yang mengajak ke Kandangan sekaligus mengislamkan adalah Barniah, dan bukan atas kemauan dari si anak.

Keruan, ini membuat berang orangtua anak itu, terutama bapaknya. Suasana berubah menjadi panas dan tak terkendali. "Oleh teman-teman di gunung aku disurati agar tidak naik dulu, karena orangtua anak itu tidak terima anaknya berislam," imbuhnya.

Hampir sebulan, dia tak menjejakkan kakinya di gunung (sebutan untuk daerah Loksado dan sekitarnya-red), sehingga tugas-tugasnya pun diserahkan ke teman-teman.

Selama rentang waktu itu, selain dia diancam akan diperkarakan, bapak si anak juga mengancam akan menyakitinya melalui 'jalan halus'.

"Kalau kada kawa jalan kasar, jalan halus kulakukan," katanya mencuplik ucapan bapak itu.

Meski memang Loksado terkenal dengan hal-hal berbau mistis, awalnya dia tak percaya. Tapi kejadian persis di waktu Maghrib itu, membuatnya merinding juga. Tanpa ada angin atau apa, tiba-tiba daun jendela kamarnya terbuka-tutup dengan sendirinya. Dan itu, berlangsung berkali-kali di waktu maghrib itu.

Anehnya lagi, tiba-tiba pula ranjang tempat tidurnya, terangkat dari lantai. Masya Allah. Ternyata, hal sama dialami ibunya di kamar sebelah.

"Ya kebetulan waktu itu aku juga sedang halangan, sempat terpikir kalau itu khayalanku saja. Tapi rasanya tidak mungkin lagi karena mama juga mengalaminya, akhirnya aku banyak-banyak ingat Allah," ujarnya.

Kejadian yang dialaminya semakin dikuatkan kabar yang menceritakan kalau tetangganya yang muslim di desa Malinau, satu keluarga menderita sakit aneh yang tidak ada obatnya secara bergiliran.

"Rupanya Allah masih melindungi kami, aku tidak apa-apa dan tetanggaku pun kembali sehat walau sempat sakit serumahan," imbuhnya.

Sekembalinya ke gunung, selama setahun bapak itu tak mau membalas sapaannya. Bahkan bila ketemu, dengan butah (keranjang khas orang Dayak-red) dan parang besar ditangan, dia selalu meludah dan memalingkan wajahnya. Padahal neneknya yang asli desa Lumpangi, sudah mendatangi si bapak dan menceritakan kalau Barniah statusnya masih keponakan bapak itu, sehingga masalahnya tidak perlu diperpanjang.

"Meski tidak digubris, sebagai yang lebih muda aku tetap menyapa. Sampai akhirnya, hampir setahun baru hati sidin luluh dan tidak lagi meludah atau berpaling," tukas dara alumni D-3 Fak Pertanian Jurusan Budidaya Pertanian Unlam ini.

Darah Loksado

Sebelum memulai aktifitas dakwahnya tahun 1993, Loksado, bagi Barniah bukanlah daerah asing. Selain dia lahir disana, darah Loksado pun mengalir deras di tubuhnya.

Ibunya, Rusniah (47) yang sekarang menetap di Kandangan, adalah orang asli Loksado. Namun dari dulu muslim, karena dari nenek ibunya sudah menganut agama Islam. Sekarang pun, nenek, orangtua dari ibunya, masih berdiam di Lumpangi beserta keluarga lainnya yang masih menganut Kaharingan maupun agama Kristen.

Sementara bapaknya, Syahran Noor (alm) meski bukan asli Loksado, namun sejak bujangan sudah menetap dan menjadi guru sekaligus dai di Loksado. Dan Loksado pula yang mempertemukan kedua orangtuanya hingga melangkah ke jenjang pernikahan.

Namun sejak SD sampai SPMA, dia menjalaninya di Bati-Bati dan Kandangan. Namun baru kembali ke Loksado setelah bertugas sebagai tenaga honor penyuluh pertanian di Dinas Pertanian.

Sejak 1996, perempuan yang sempat bercita-cita kuliah di IAIN Antasari Banjarmasin ini, diangkat sebagai Penyuluh Agama Islam (PAI). Dan sekarang, dia termasuk satu diantara 46 orang yang terseleksi sebagai Guru Bakti program Pegunungan Meratus oleh Dinas Diknas.

"Berdakwah di sini harus bermental baja. Aku saja andai tidak dikuatkan mama-abah, mungkin dari sudah berhenti. Pesan sidin, kalau masih bisa bertahan, bertahan saja karena kalangan misi bisa sukses disebabkan keuletan mereka. Itulah yang membuatku hingga sekarang bisa bertahan," tandasnya.

Masjid Buruk dan Batu Beranak

Namanya saja masjid tapi tak pernah disembahyangi, kecuali untuk selamatan dan shalat hajat bila musim manaradak tiba. Malah oleh masyarakat, masjid ini dikeramatkan karena dipercaya memiliki apuah.
Lumrahnya masjid digunakan untuk mendirikan shalat, ternyata itu tak berlaku buat masjid satu ini yang diberi nama sesuai nama yang membangun, Masjid 'Amal Datuk Ulin atau yang dikenal Masjid Buruk. Dan kalau pun digunakan shalat, hanya shalat hajat menjelang musim manaradak (menyemai benih padi) yang dilakukan sekali setahun setiap bulan Oktober. Sedang untuk shalat Jumat, mereka berduyun-duyun mendatangi desa tetangga, Desa Ulin Bayur yang letaknya sekitar satu kilometer.

Dilihat sepintas, kondisi bangunan yang usianya diperkirakan ratusan tahun ini tak menunjukkan bentuk dan ukuran masjid pada umumnya, lebih nampak seperti pesanggrahan tempat biasa orang tetirah (menyepi). Meski begitu, masyarakat tetap menjulukinya masjid dengan kekeramatan yang dimilikinya.

Bangunan yang hampir di setiap sudutnya dipenuhi kain kuning dan berada di sekitar persawahan penduduk, menurut kepercayaan warga sekitar dibangun oleh Dul Amat yang bergelar Datuk Ulin.

Seperti penuturan seorang warga Desa Kamal, Maslan yang biasa disapa Abah Okoh, masjid yang dibangun Datuk Ulin ini beberapa kali sempat akan dibumihanguskan Belanda. Dan Datuk Ulin sendiri menurutnya, bukanlah orang sembarangan, dia memiliki ilmu kedigdayaan. Berkat kekeramatan yang dimilikinya, usaha yang dilakukan tentara Belanda selalu gagal.

Berdasar cerita, lanjut Maslan yang sudah tergolong sepuh, setiap kali meriam atau senapan ditembakkan ke arah masjid, masjidnya selalu hilang dari pandangan sehingga tembakan hanya mengenai tempat kosong. Padahal, ketika diteropong obyek sudah pas dari sasaran tembak.

"Sering ditemukan peluru atau serpihannya oleh penduduk yang sawahnya di sekitar sini, itu sebagai bukti," tukas Maslan.

Dan meski kini Datuk Ulin sudah tiada, dipercaya masyarakat dia wafat (gaib), namun dia masih sempat menitipkan masjid pada Datuk Baduk dan tentara kerajaan gaib yang mengawalnya.

"Saat ini saja Datuk Baduk berada disini, sedang duduk di tiang itu, cuma kita saja yang tidak melihat," ujarnya sembari menunjuk sebuah tiang yang persis berada di tengah ruangan.

Tempat Ritus

Rupanya, karena kekeramatan itulah bangunan yang terletak di Desa Kamal berbatasan dengan Desa Ulin Bayur Kecamatan Simpur, sekitar 10 Km dari Kota Kandangan, lebih banyak digunakan buat ziarah dan ritual masyarakat. Seperti basalamatan, bernazar dan menginapkan benda-benda yang terkait dengan pertandingan atau judi, adalah suatu yang lumrah di tempat ini.

"Biasanya karena telah memanggil Datuk Ulin dan nazarnya (hajat) terkabul, kemudian datang kesini basalamatan dan meletakkan kain kuning," ungkap Jumenang warga Desa Kamal.

Pun beberapa waktu berselang, menurut Jumenang, ada warga Loksado asal Desa Ulin yang melakukan selamatan dan mengundang warga sekitar. Ternyata, orang itu baru saja terbebas dari luapan air bah yang menghancurkan rumah, harta benda dan jiwa penduduk di Loksado.

Saat luapan air bah nyaris menerjang rumahnya, dalam pikiran kalut dia teringat Datuk Ulin dan serta merta menyebut namanya. Tak dinyana, air yang semula menggelegak dengan suaranya yang dahsyat, tiba-tiba berbalik arah dan selamatlah dia beserta keluarga dan rumah yang mereka tempati.

Bahkan tak tanggung-tanggung, karena nazarnya yang berkaitan dengan usaha terkabul, seorang lurah dari Banjarmasin yang juga seorang pengusaha batu bara, bersedia memperbaiki bangunan masjid tanpa merubah bentuk aslinya.

"Sekitar bulan puasa yang lalu, makanya atap dan sebagian dindingnya masih terlihat baru," imbuh Jumenang sembari menunjukkan bagian-bagian yang telah direhab.

Sementara ritual menginapkan benda atau alat yang akan digunakan dalam pertandingan, lanjutnya, lebih dimaksudkan untuk tujuan mendapat berkah atau apuah dari Datuk Ulin.

"Tujuannya tidak lain ya agar menang, jadi dimalamakanlah gasing atau ayam yang besoknya akan ditandingkan," paparnya yang diiringi anggukan setuju dari Yuni. Bahkan kerap, pagi besoknya penduduk yang melintas di depan masjid menemukan ayam yang masih berkeliaran atau bertengger di palang bubungan masjid.

Ketika ditanya, apakah benda dari jenis perlombaan lain seperti sepatu sepakbola atau raket badminton juga pernah diinapkan di sini, baik Jumenang maupun Yuni tak dapat memastikan hal itu. Menurutnya, sepengetahuan mereka hanya dua jenis lomba itu yang sering, itu pun karena terkait jenis permainan yang disukai masyarakat.

"Tapi mungkin saja, karena kami memang tak memantaunya setiap saat," timpal Yuni.

Batu Beranak

Anehnya lagi, bangunan yang cuma berukuran kurang lebih 4x4m persegi dan hanya sebagian berdinding, persis di tempat imam yang menghadap persawahan penduduk, terdapat berpuluh batu berbagai ukuran. Dari batu yang seukuran kepala kerbau hingga yang cuma sebesar jempol, dipercaya masyarakat memiliki kekuatan berpindah tempat dan menggandakan diri, batu beranak istilahnya.

Disekeliling batu dibuat semacam pagar yang membentengi tumpukan batu. Dan nyaris tanpa sela, bertumpuk-tumpuk kain kuning yang sebagiannya sudah pudar warnanya menutupi batu, sehingga tak nampak jelas dari jalan masuk.

Ternyata, tak jauh dari masjid, tepatnya di sisi jalan utama desa, terdapat bangunan yang didalamnya bersemayam batu beragam ukuran menyerupai yang ada di dalam masjid. Dan tentu saja, menurut masyarakat, kedua tempat ini memiliki keterkaitan satu sama lain. "Kadang, batu yang berada di pinggir jalan, tiba-tiba sudah berada di masjid dan begitu sebaliknya," ujarnya.

Menurut Jumenang, beberapa penduduk pernah coba membuktikan termasuk dirinya, apakah yang dikatakan orang tentang batu beranak benar atau sekedar kepercayaan belaka.

"Pernah dicoba memastikan jumlahnya dan dilakukan berulang. Ternyata tiap orang yang menghitung tidak pernah sama jumlahnya, kadang kurang atau lebih," akunya tanpa sungkan.

Pengalaman lain, lanjutnya, pernah pula diutarakan seorang nenek yang kesehariannya tak lepas dari kebiasaannya menginang. Suatu hari di depan masjid, ketika dia lewat tanpa sengaja terantuk batu sebesar jempol. Serta merta diambilnya batu itu dan langsung tertarik membawanya pulang.

Sesampai di rumah, sambil memoleskan kapur ke daun sirihnya, tanpa sengaja jari jemarinya yang belepotan kapur menyentuh batu yang barusan dipungutnya dari jalan. Tak ayal, si batu pun turut kena kapurnya. Dan tanpa berpikir lebih jauh, karena ada pekerjaan yang harus dilakukannya, dia meninggalkan batu diantara peralatannya menginang.

Selang esok harinya ketika dia ingin menuntaskan hajatnya menginang, batu itu sudah tak ada lagi di sana, raib entah kemana. Dan beberapa hari kemudian, tanpa sengaja dia menemukan batu itu diantara tumpukan batu yang ada di dalam masjid, masih berselimut kapur.

Datuk Ulin

Datuk Ulin diperkirakan hidup semasa dengan Sultan Suriansyah, raja kerajaan Banjar yang pertama kali memeluk Islam. Sampai kini pun, warga sekitar masjid mempercayai kalau Datuk Ulin itu wafat (gaib) dan bukannya mati sehingga masih bisa dimintai pertolongannya.

Dan menurut penuturan Maslan, Datuk Ulin bukanlah orang sembarangan, dia memiliki ilmu yang tinggi dan tak mempan oleh senjata apapun. Karena kedigdayaan ilmu yang dimilikinya, semasa di dunia dia dipanggil Pangeran Suriansyah untuk membantu memerangi pasukan Belanda dan Inggris yang ingin menguasai bumi Lambung Mangkurat.

"Bersama Garuntung Waluh, Garuntung Manau dan Panimba Sagara, Datuk Ulin berjuang bahu membahu," urai Maslan.

30 November 2008

Pulau Telo di DAS Kahayan

Telo berasal dalam bahasa Kapuas, berarti tiga. Jadi, Pulau Telo adalah tiga buah pulau di daerah aliran sungai (DAS) Kahayan yang daratannya terpisah dari Kota Kuala Kapuas. Dapat dicapai dengan transportasi sungai seperti jukung (sampan-red), kelotok atau speed boat.

Sekilas, pulau itu nampaknya hanya ditumbuhi pohon-pohonan, jingah atau rambai. Padahal jika masuk, maka akan terlihat hamparan hijau persawahan penduduk.

Bahkan menurut Khairun (70), sesepuh masyarakat Desa Pulau Telo Kecamatan Selat, kegiatan bersawah itu sudah berlangsung bertahun-tahun.

"Hasilnya bagus, sama saja dengan di tempat lain," ujarnya dengan logat Dayak yang kental.

Soal pulau itu akan dijadikan lokasi perjudian, dia mengaku belum mendengarnya. Tapi, lanjutnya, tentang rencana membuka pulau itu sebenarnya sudah beberapa kali dilakukan. Selain oleh orang dari luar negeri, keluarga cendana (mantan presiden Soeharto-red) pun di jaman orba pernah berminat membuka kawasan Pulau Telo.

"Rencananya mau dibikin taman dan tempat rekreasi, katanya. Waktu pembukaan, mbak Tutut (Siti Hardiyanti Rukmana-red) juga datang," cerita Khairun.

Malah, lanjutnya, pejabat daerah dan anak-anak sekolah juga dikerahkan di peresmian awalnya. Berbagai hiburan dan permainan musik, menjadi sajian utama acaranya.

Namun entah kenapa, proyek itu terhenti tiba-tiba. Padahal sudah berjalan dan sempat dilakukan pengerukan, yang tujuannya untuk membuat jalan menghubungkan ketiga pulau.

"Kami juga tidak tahu kenapa berhenti, padahal sudah dikeruk," tukasnya.

Setelah beberapa tahun tidak ada kabar beritanya, seiring turunnya Soeharto dari tampuk kekuasaan, tiba-tiba setengah tahun lalu datang orang asing melihat ke tempat yang sama. Informasinya, orang dari Jepang itu juga membawa penerjemah.

"Katanya survey, kami juga diajak foto-foto. Tapi cuma itu, karena sampai sekarang tidak pernah datang lagi," tutur kakek berperawakan kurus ini.

Buaya Buntung

Selain rimbun dengan pohon-pohonan juga di berbagai sudutnya dapat ditemui kain-kain berwarna kuning dalam berbagai ukuran yang dipasang seperti bendera. Tempat itu, memang dipercaya masyarakat sebagai tempat angker dan ada penunggunya.

"Kelihatannya kayu-kayuan, tapi bila malam-malam orang yang lewat melihatnya seperti banua yang terang benderang," ujar Khairun yang percaya kalau pulau itu memang ada penunggunya.

Malah berdasar cerita yang diperolehnya dari orang-orang tua dulu, pulau itu dulunya adalah kapal Belanda yang kandas.

"Sudah berabad-abad lalu, lama-kelamaan menjadi pulau," beber kakek yang sudah tinggal lebih 40 tahun di daerah itu.

Sedang kain-kain kuning yang dipasang laiknya bendera, diakuinya itu berasal dari orang-orang yang berhajat. Mereka ada penduduk setempat, namun tidak jarang datang dari jauh.

"Mungkin karena mereka percaya pulau ada penunggunya, makanya mereka berhajat," tandasnya.

Sementara menurut Gawang, penunggu Pulau Telo adalah seekor buaya buntung yang disebut Raden Kudung.

"Bahari katanya memang ada penunggunya di sini, seekor buaya buntung tidak bertangan dan berkaki, namanya Raden Kudung. Aneh dan ajaib, memang," beber Gawang.

Ini, lanjutnya bukan hanya kisah tapi berdasar cerita mertuanya yang mengalami sendiri di kejar-kejar buaya di sekitar lokasi Pulau Telo.

"Dulu semasa sidin sekolah tahun 40-an, jukung yang sidin dan kawan-kawan tumpangi sering dikejar buaya. Bila tidak dilempar sesuatu, misal papan atau benda apa saja, bakalan jukung yang jadi sasaran," imbuhnya.

Makanya tak heran, kalau di sekita Pulau Telo, ada saja orang yang memasang bendera atau kain kuning.

"Mungkin mereka punya hajat tertentu, dan masih percaya tempat itu ada penunggunya yang bisa memenuhi keinginan mereka," tukas Gawang.

Musibah Jukung Terbalik

Di sekitar Pulau Telo, tak jarang ditemui hal-hal aneh. Salah satunya musibah terbaliknya jukung yang menewaskan seluruh penumpangnya, akhir Oktober 2003.

Menurut orangtua salah seorang korban, mereka merasa aneh dan tak percaya atas kejadian itu. Pasalnya, puluhan tahun bermukim di sana dari nini-kai mereka dulu, tidak pernah mengalami kejadian seperti ini.

"Katanya kena gelombang, ujar pemancing ikan yang sempat melihat. Tapi gelombang itu disebabkan oleh apa, tidak ada yang tahu," ungkap Toyo dan Sariah, orangtua almarhum Agus Ariyanto.

Bahkan dilihat sepintas, lanjutnya, aliran sungainya nampak tenang dan tak bergelombang. Meski sesekali dilalui kapal motor atau speed boat, sungai yang termasuk DAS (Daerah Aliran Sungai) Kahayan ini, hanya menimbulkan riak dan gelombang kecil sepanjang permukaannya.

Dan melewati sungai juga bukan hal aneh bagi mereka. Sehingga rute yang dilalui, sudah sangat mereka hapal. Jukung yang dipergunakan pun sama seperti biasa, hanya berukuran sekitar empat depa. Tapi entah kenapa di hari naas itu, jukung yang dimuati lima orang serta berbagai keperluan rumah tangga dan bahan berjualan, terbalik.

Bukit Tangkiling Menyimpan Batu Pengapit Dosa



Menyusuri daerah perbukitan di kawasan Kotamadya Palangkaraya, tidak lengkap rasanya bila belum mendaki bukit yang satu ini, Bukit Tangkiling. Letaknya jauh dari pusat kota, persisnya Jl Tjilik Riwut Km 32 arah luar kota. Dari segenap penjuru memandang, nampak bukit yang rimbun ditumbuhi pepohonan.

Untuk memasuki areal kaki bukit, dari Kelurahan Banturung harus menempuh jarak 1600 m lagi. Jangan dibayangkan kesulitan medan yang harus dilintasi menuju kaki bukit, karena bukan lagi jalan setapak, tapi jalan beraspal yang sesekali tergenang air bila hujan turun lebat. Kesulitan, baru terasa setelah berada di punggung bukit, jalan menanjak dan terjal terhampar di depan mata.

Bukit Tangkiling yang tingginya kurang lebih 500 m , dipercaya menyimpan berjuta legenda dan kekuatan magis. Berdiri kokoh, menjulang langit di perbatasan Kelurahan Banturung-Tangkiling Kecamatan Bukit Batu, Palangkaraya. Perlu waktu kurang lebih 40 menit untuk mencapai puncaknya.

Batu Kapit Dosa

Konon, dahulu, daerah sekitarnya berupa sungai, seluas mata memandang, yang tampak air semata. Mirip cerita si Malin Kundang, sang anak durhaka, Tangkiling pun, dikutuk karena kedurhakaannya. Berubahlah sungai tempatnya berlayar menjadi daratan dan perbukitan. Sedang perahu dan seluruh barang bawaannya, berubah menjadi batu-batuan yang besarnya sebesar rumah-rumahan.

Tangkiling sendiri, karena dosa-dosa yang disandangnya, harus rela terjepit diantara biliknya, sekarang dikenal dengan batu pengapit dosa. Memang, batu kapit dosa, dipercaya, berasal dari bilik Tangkiling yang turut diterbangkan angin dan kemudian berubah membatu seperti benda lainnya.

"Bila orang bersangkutan ada dosa, maka tidak bisa melewati antara dua batu itu, terjepit," ungkap Aisyah-sebut saja begitu namanya- seorang penduduk Kelurahan Tangkiling yang kerap mendaki bukit bersama keluarganya. Dia mengaku, apa yang barusan dipaparkannya, berdasar kepercayaan yang mereka terima turun temurun.

Dulu pun, menurutnya, ada semacam upacara penghormatan atau ritual yang dilakukan dekat batu itu, fungsinya meminta pengampunan atas dosa yang telah dilakukan. Sesaji turut dihadirkan, terhampar bermacam kue tradisional dan kemenyan yang menyengat hidung.

"Kita baca doa sesuai agama kepercayaan yang kita anut," imbuhnya.

Apakah sudah ada yang terjepit disana? Sambil tertawa, dikatakannya, sepengetahuan dia, memang belum pernah terjadi, kecuali karma yang menimpa Tangkiling, hingga terjepit diantara dua batu itu.

"Mungkin, karena zamannya sudah berubah, kekuatan itu tidak pernah dinampakkan lagi," tukasnya. Meski begitu, menurutnya, kepercayaan akan kekuatan magis batu itu, masih beredar dan dipercaya masyarakat. Nyatanya, beberapa kecelakaan, pernah terjadi di seputar bukit Tangkiling.

Mengenai kepercayaan ini, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi kalteng Drs H Nawawi Mahmuda, menilai, itu hanyalah fenomena atau peristiwa alam belaka. Dan, tidak ada keterkaitannya dengan kekuatan magis atau supranatural.

"Artinya memang murni fenomena alam, tidak ada kaitannya dengan kekuatan magis atau supranatural," tegasnya.

Kepercayaan ini dibuktikan sekelompok pelajar dari sebuah SMU di Palangkaraya. Mereka menghabiskan akhir pekannya mendaki bukit, mau tidak mau, mereka harus memiringkan tubuhnya agar tidak terjepit di antara dua batu itu. Hasilnya? Mereka sampai ke puncak dan kembali lagi dengan selamat.

Dilihat dari jarak antara kedua batu yang berkisar 15 sentimeteran, terletak di punggung bukit, memang agak sulit untuk melewatinya, harus memiringkan tubuh. Di bawah batu sendiri, ternyata ada rongga atau ruang kosong, sehingga bila kita melangkah diatasnya, terasa ada suara langkah, bergema.

Kiri kanan, jalan yang dilewati, bukanlah dataran, tapi jurang yang menganga cukup dalam. Jadi, kehati-hatian adalah modal yang harus dimiliki.

"Kalau menengok ke bawah, hati rasanya rawan," imbuh Aisyah yang memiliki warung teh di Pelabuhan Tangkiling.

Sedang Juhran mantan pegawai Komunikasi Radio di Kelurahan Banturung, menuturkan, di Bukit Tangkiling terdapat bermacam-macam batu, batu pengapit dosa hanyalah salah satunya. Disebutnya pula, batu banama, batu cincin dan batu kawah yang terletak di puncak bukit.

Batu kawah, dipercaya sebagai jelmaan perahu Tangkiling yang karam, kemudian membatu. Batu kawah, oleh masyarakat sekitar dikenal pula dengan sebutan batu rinjing, karena bentuknya yang menyerupai rinjing atau wajan.

"Waktu masih bertugas, saya tiap hari naik bukit. Karena di atas bukitlah tempat paling efektif menyampaikan dan menerima informasi, suaranya terdengar lebih jelas," paparnya.

Kelabang Raksasa

Kepercayaan masyarakat lagi, menurut penuturan Aisyah, di sekitar batu kapit dosa, bermukim seekor kelabang raksasa, berukuran sebesar batang pohon kelapa.

"Bahkan, selain batu kapit dosa, disana ada juga halilipan (kelabang-red) sebesar batang nyiur (kelapa-red)," ujarnya yang berasal dari hulu Sungai Barito ini. Namun, sama halnya dengan batu kapit dosa, kelabang raksasa ini tidak pernah lagi menampakkan dirinya, raib seperti di telan bumi.

"Masa yang sudah berubah, membuat mereka tidak pernah lagi menampakkan diri," ungkapnya beralasan.

Persis seperti penuturan Aisyah, setiba kembali di base camp, dalam guyuran hujan lebat, sekelompok anak sekolahan tadi dikejutkan jeritan salah seorang temannya. Sontak, orang-orang yang berada di situ terkesiap, ternyata cowok ABG itu digigit kelabang sebesar jempol tangan.

Memang, kelabang termasuk binatang merayap yang memiliki bisa (racun). Racunnya bisa menyebabkan badan meriang, berkepanjangan.

"Jangan-jangan, kelabang ini, cucunya kelabang raksasa yang pernah diceritakan itu, lepas dari jepitan batu pengapit dosa, eh, malah digigit cucunya kelabang raksasa," celetuk mereka bersahutan.