30 November 2008

Kyai Gede Kotawaringin Kharismanya Setara Datuk Kalampayan

Makamnya di Kecamatan Kotawaringin Lama, selalu diziarahi. Dialah Kyai Gede, tokoh penyebar agama Islam di Kab Kotawaringin Barat yang kharismanya setara Syekh Arsyad Al Banjary atau Datuk Kalampayan di Kalsel.

Bila ke Pangkalan Bun, rasanya orang tidak akan lengkap bila tak singgah di tempat satu ini, makam Kyai Gede alias Abdul Qadir Assegaf. Terutama pada hari Jumat, makamnya ramai dikunjungi orang, dari dalam maupun luar kota. Tujuannya, tidak lain berziarah sembari memanjatkan doa. Bedanya, di sekitar lokasi tidak tampak peminta-peminta, hanya warung-warung penjual makanan kecil yang akan meyambut para peziarah.

Sebagaimana Kalampayan, maka tidak pas rasanya kalau tidak berziarah ke tempat ini. Tapi memang tak seramai di Kalampayan, meski kharismanya menurut orang-orang yang pernah berziarah ke sana, tidak kalah dari Datuk Kalampayan.

"Sama saja, kalau ke Banjarmasin kita pasti menyempatkan ke Kalampayan, tidak pas rasanya kalau ke Pangkalan Bun tidak menyempatkan ziarah ke makam Kyai Gede," aku Badariyah, seorang ibu asal Kotawaringin Lama.

Kyai Gede adalah tokoh mula-mula penyebar agama Islam di Kotawaringin. Walau kini telah lama tiada, pengaruhnya dalam kehidupan, sangat dirasakan masyarakat setempat. Terbukti 90 persen lebih penduduk Kab Kobar, beragama Islam dengan tradisi Islam yang kental. Dan berdasar catatan sejarah, semasa pemerintahan Raja Kotawaringin pertama Pangeran Adipati Anta Kasuma, Kyai Gede menduduki jabatan Mangkubumi kerajaan.

Kondisi keberislaman masyarakat Kotawaringin pun akhirnya berimbas pada kebijakan penjajah Belanda menyebarkan misi zending, pasca ibukota kerajaan pindah dari Kotawaringin ke Pangkalan Bun.

Seperti pernah diungkap Ketua MUI Kalteng KH Haderanie HN, keputusan karesidenan Belanda membagi daerah menjadi beberapa wilayah keagamaan, Kapuas dan Barito termasuk daerah kegiatan operasi Kristen Protestan. Sedang Kotawaringin adalah kesultanan termasuk Pangkalan Bun yang dikuasai Sultan beragama Islam, sehingga termasuk daerah penyebaran agama Islam.

Makamnya Tiga Meter

Komplek makam yang tidak jauh dari komplek Astana Al Noorsari, nampak tak berbeda dari kubah lainnya yang mungkin pernah kita saksikan. Namun yang satu ini terlihat kokoh dan permanen, karena baru direnovasi. Tambahan, begitu memasuki ruangan, kita pasti langsung terkesima.

Bagaimana tidak, antara dua makam yang terdapat di dalam kubah, ada perbedaan yang sangat mencolok menyangkut ukuran. Jika yang satunya berukuran normal, lainnya memiliki panjang hampir tiga meter. Dan makam berukuran lebih panjang inilah tempat persemayaman terakhir Kyai Gede, tokoh penyebar agama Islam di Kotawaringin.

"Kuburannya memang panjang sekali, tidak seperti orang pada umumnya, sekitar tiga meteran. Sedang kubur yang satunya adalah makam salah seorang pengikut setianya," ujar pengurus kubah, Abdullah Sani.

Itu pun imbuhnya, berdasar cerita posisi tubuh Kyai Gede saat dimasukkan dalam peti dan liang lahat, harus dilipat sampai tiga kali agar muat. Bahkan seperti penuturan Ahmad Yusuf (60 th) pemelihara Astana Al Noorsari, jarak antara kedua puting susu Kyai Gede tidak kurang dari tujuh kilan atau setara 1,5 meter.

Itulah, karena ukuran tubuhnya yang tinggi besar, masyarakat percaya kalau Masjid Djami Kotawaringin yang hingga kini masih berdiri kokoh, adalah buah adi karya Kyai Gede.

"Masjid Djami berdasar cerita dibangun Kyai Gede di pedalaman, kemudian dibawanya langsung sendiri ke Kotawaringin," papar Abdullah Sani.

Tokoh penyebar agama Islam yang hidup semasa dengan raja pertama Kotawaringin, Pangeran Adipati Anta Kasuma, memperkenalkan Islam hingga ke pedalaman dan hulu-hulu sungai. Bahkan menurut buku "Sekilas mengenang lahirnya Kerajaan Kotawaringin dan Kabupaten Kotawaringin Barat" yang diterbitkan Humas dan Penerangan Setwilda Kobar 2001, Kyai Gede sudah lebih dahulu berada di daerah ini ketika Pangeran Adipati dan rombongan masih berusaha membangun kota baru.

Berdasar penuturan Gusti Rasyidin yang masih keturunan Raja Kotawaringin ke VII Gusti Sultanul Baladuddin Gelar Pangeran Ratu Begawan, Kyai Gede juga dianggap berperan dalam proses pembentukan dan pendirian kerajaan.

"Menurut Kyai Gede, biar rakyat tidak membayar upeti lagi ke Kerajaan Banjar, baiknya mereka mendirikan kerajaan atau kesultanan," ujar Rasyidin. Dan peran Kyai Gede oleh Pangeran Adipati sangat dihargai sehingga kemudian menduduki jabatan sebagai Mangkubumi kerajaan hingga wafatnya yang diperkirakan tahun 920-an H.

Dua Versi

Namun menyangkut asal muasal Kyai Gede, ada dua versi sejarah yang sampai ke masyarakat. Versi pertama persis seperti yang dipercaya masyarakat umum dan disampaikan Abdullah Sani juga tertera di dalam kubah, mengatakan Kyai Gede berasal dari Demak dan masuk ke Kotawaringin tahun 1595. Versi lainnya, tokoh ini murni penduduk asli Kotawaringin, bukannya berasal dari Demak.

Berdasar catatan sejarahnya, Abdullah Sani memaparkan kalau Kyai Gede adalah ulama yang berasal dari Demak. Namun karena sikap membangkangnya, akhirnya diusir dan dibuang dari kerajaan. Oleh Raja Demak ketika itu, Kyai Gede beserta pengikutnya dilarang melakukan peperangan pada hari Jumat.

Namun perintah raja ini malah tak diindahkan. Ketika melakukan peperangan, pasukannya kalah. Akhirnya dia harus menanggung konsekuensinya, di buang jauh dari kerajaan dan akhirnya terdampar di Kerajaan Banjar setelah sebelumnya sempat melalui Gresik.

Pada masa itu, kerajaan Banjar dibawah kekuasaan Pangeran Suriansyah yang sebelum masuk Islam bergelar Pangeran Suryanata. Oleh Pangeran Suriansyah, Kyai Gede dengan didampingi khatib Dayan diutus untuk menyebarkan Islam ke Kotawaringin Barat, kala itu tahun 1595 M.

Dengan pengikut tak kurang dari 40 orang disertai khatib Dayan, berangkatlah Kyai Gede menyusuri Sungai Arut hingga ke pedalaman Sungai Lamandau dan Balantik, Nanga Bulik, Sukamara. Dalam perjalanannya menyebarkan Islam, akhirnya Kyai Gede bertemu dengan Pangeran Adipati Anta Kasuma putra Sultan Musta'inubillah Raja Kerajaan Banjar. Selanjutnya berdirilah kerajaan Kotawaringin dengan Kyai Gede sebagai Mangkubumi pertamanya mendampingi Pangeran Adipati Anta kasuma.

"Ini dapat dibuktikan dengan adanya tulisan berbahasa Jawa yang tertera pada beduk yang ada di Masjid Djami Kotawaringin," jelas Abdullah Sani.

Sementara versi lain, seperti dipaparkan Gusti Djendro Suseno, Kyai Gede tidak lain adalah Kyai Gade putra asli Kotawaringin, bukan berasal dari Demak. Dari catatan sejarah yang dimilikinya, Kyai Gade dan Pangeran Adipati Anta Kasuma keberadaannya tidaklah sejaman.

"Berabad-abad jaraknya, dan ini bisa dibuktikan dengan penelusuran sejarah mulai Sultan Suriansyah berkuasa yang kemudian katanya mengutus Kyai Gede ke Kotawaringin," jelas Djendro Suseno. Dan dia tak menampik kalau Masjid Djami Kotawaringin dapat dijadikan bukti keberadaan Kyai Gede atau Gade. Masjid yang menurutnya memang dibangun Kyai Gede, benar memiliki sebuah beduk bertuliskan huruf Jawa.

"Kebetulan saya bisa membaca huruf Jawa, dan terbukti kalau Kyai Gade tidaklah sejaman dengan Pangeran Adipati Anta Kasuma, Raja pertama Kerajaan Kotawaringin," ujar Djendro yang juga masih keturunan Kerajaan Mataram dari garis ibu.

Dan bukti lain lanjutnya, berdasar kebiasaan, seorang ulama atau penyebar agama Islam di daerah ini biasa disebut "Syekh". Sedang gelar Kyai biasa diperuntukkan bagi seseorang yang memiliki keahlian atau ilmu di bidang tertentu.

Di belakang makam Kyai Gede pun menurut Djendro, terdapat semacam batu pemujaan terhadap nenek moyang atau menhir. Menhir ini sebagai petunjuk bahwa dahulunya Kyai Gede adalah orang Kotawaringin yang dulunya juga penganut agama nenek moyang. Sejalan perubahan waktu, batu pemujaan ini pun mengalami perubahan nama sesuai dengan orang-orang sekitarnya.

"Orang penganut agama nenek moyang menyebut lain dan yang beragama Islam menyebut lain juga sesuai keyakinannya. Padahal obyeknya sih sama saja," tandasnya.

Keberadaan Kyai Gede sebagai penduduk asli Kotawaringin semakin diperkuat dengan banyaknya peziarah bukan dari kalangan muslim semata, tapi juga dari penduduk yang bukan beragama Islam. Yang menurut Djendro Suseno, tentu ini mereka lakukan karena merasa memiliki hubungan darah dengan beliau.

--------------------------------------------

Nama Beliau Abdul Qadir Assegaf

Berdasar pengetahuan yang dimilikinya, Abdullah Sani begitu meyakini kalau sesungguhnya tokoh penyebar agama Islam di Kotawaringin ini, memang berasal dari Demak, lain tidak.

"Beliau yang bernama asli Abdul Qadir Assegaf berasal dari Demak, kemudian ke Gresik dan langsung ke Kerajaan Banjar," ujar Abdullah Sani, sembari menunjukkan peta perjalanan Kyai Gede yang terdapat di dalam kubah. Ketika ditanya apakah Kyai Gede memiliki keturunan, Abdullah Sani yang baru beberapa bulan lalu menggantikan penjaga makam yang telah meninggal, Kyai Gede sendiri sepengetahuannya, begitu meninggalkan Demak dan menjejakkan kakinya di Kotawaringin, tidak pernah lagi melangsungkan pernikahan.

"Istri beliau ya Nyai Gede dan tetap berada di Demak ketika Kyai Gede di buang dan kemudian terdampar di Kerajaan Banjar," tukasnya sembari menyanggah kalau Kyai Gede pernah melangsungkan pernikahan dengan penduduk setempat.

Sedang keberadaan Kyai Gede selanjutnya, menurut Abdullah, bersama Khatib Dayan dan 40 orang pengikut, oleh Sultan Suriansyah diperintahkan menyebarkan agama Islam ke arah Barat yaitu Kotawaringin. Hingga akhirnya bertemu Pangeran Adipati Anta Kasuma yang ingin mendirikan kerajaan dan berdirilah Kerajaaan Kotawaringin tahun 1598 M.

"Ini dapat dibuktikan dengan adanya tulisan berbahasa Jawa yang tertera pada beduk yang ada di Masjid Djami Kotawaringin," jelas Abdullah Sani.

Menguak Sejarah Kesultanan Kotawaringin

Kesultanan Kotawaringin, satu-satunya kerajaan yang pernah ada di Prop Kalteng, bahkan masih terpelihara dengan baik. Bahkan semasa penjajahan Belanda, daerah ini luput dari rencana pengkristenan Dayak Besar. Hingga kini kita dapat melihat dan menyaksikan situs beserta benda-benda peninggalannya. Ternyata pendiriannya bermaterai darah manusia, termaktub dalam Panti Darah Janji Samaya.

Menyusuri Sungai Arut sepanjang ratusan kilometer yang membelah Kota Pangkalan Bun, sampailah kita di Kecamatan Kotawaringin Lama dengan Astana Al Noorsari-nya yang masih berdiri kokoh. Astana Al Noorsari adalah cikal bakal Kesultanan Kotawaringin sebelum pusat kekuasaannya pindah ke Pangkalan Bun tahun 1679 M/1171 H.

Di daerah ini, kita juga masih akan menemukan catatan sejarah lainnya. Terdapat makam Sultan-sultan Kotawaringin yang bertulisan huruf Arab Melayu, makam Kyai Gede seorang tokoh penyebar agama Islam sekitar abad ke 16. Kita juga dapat menemukan bangunan Masjid Djami Kotawaringin yang masih terbilang kokoh, meski hampir seusia ketika Kyai Gede menyebarkan Islam di daerah ini.

Dan, menapak tilas satu-satunya kerajaan yang pernah ada di propinsi Kalteng ini, memerlukan waktu cukup panjang, satu setengah jam dari Kota Pangkalan Bun dengan transportasi speed boat. Tak cuma itu, karena membicarakan Kesultanan Kotawaringin yang masih memiliki benang merah dengan kerajaan Banjar, tidak boleh tidak harus merunut sejarah kerajaan Banjar hingga kekuasaan Belanda turut bercokol di daerah ini.

Seperti dituturkan Gusti Djendro Suseno yang masih keturunan Raja ke VII Gusti Sultanul Baladuddin Gelar Pangeran Ratu Begawan, keturunan Raja Banjarlah yang mula pertama membangun Kesultanan Kotawaringin.

"Kesultanan Kotawaringin memiliki benang merah sejarah sangat kuat dengan Kerajaan Banjar, hal itu tak dapat dinafikan," ungkap Djendro Suseno yang juga anggota DPRD Tk II Kotawaringin Barat dari Fraksi Golkar. Namun dalam perjalanan selanjutnya, tak terelakkan terjadi asimilasi atau percampuran dengan masyarakat setempat yang notabene adalah Suku Dayak.

Jadi menurutnya, tak dapat dipungkiri, masyarakat yang kini bermukim memenuhi seantero Kab Kotawaringin Barat, sebagian besar adalah juga anak cucu keturunan Suku Dayak. "Untuk mempererat jalinan kerjasama dan memantapkan kekuasaan, kala itu anak-anak kepala suku atau demang diambil sebagai istri mendampingi sang raja walau posisinya bukan sebagai istri pertama," imbuhnya.

Pangeran Adipati Anta Kasuma

Adalah Sultan Musta'inubillah Raja Kerajaan Banjar yang berputra lima orang, diantaranya empat orang laki-laki yaitu Pangeran Adipati Tuha, Pangeran Adipati Anum, Pangeran Antasari (Pahlawan Nasional), Pangeran Adipati Anta Kasuma dan Puteri Ratu Aju. Karena masing-masing Putra Mahkota berminat menjadi Sultan sebagai pemegang tertinggi tampuk kerajaan, membuat sang ayah harus berpikir bijaksana.

Akhirnya, merasa bukan putra tertua, Pangeran Adipati Anta Kasuma yang memiliki keberanian dan semangat tinggi untuk menjadi seorang pemimpin, bertekat pergi mencari tempat dan mendirikan kerajaan baru. Dan memang, Pangeran Adipati Tuha lah sebagai putra tertua yang akhirnya memegang tampuk kekuasaan kerajaan Banjar.

Dengan restu kedua orang tua serta pejabat-pejabat Kerajaan Banjar, berangkatlah dia beserta pengawal dan beberapa perangkat peralatan kerajaan. Menggunakan perahu layar kerajaan, bertolaklah mereka menuju arah barat menyusuri pesisir pantai. Di sepanjang jalan yang mereka lalui, banyak tempat yang disinggahi antara lain Teluk Sebangau, Pagatan Mendawai, Sampit dan Kuala Pembuang.

Rombongan Pangeran Adipati meneruskan pelayaran ke arah barat, sampai akhirnya mendarat di sebuah daerah, dinamakan Kuala Pembuang. Daerah ini sudah ada penghuninya yang juga berkiblat di bawah kepemimpinan Kerajaan Banjar, sehingga kehadiran rombongan yang bermaksud mendirikan kerajaan baru ini ditolak oleh masyarakat setempat.


Panti Darah Janji Samaya

Tanpa mengenal putus asa, dengan semangat tinggi rombongan Pangeran Adipati kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini, perjalanan tidak lagi menyusuri pantai tapi menuju hulu sungai hingga akhirnya sampai ke sebuah desa yang dinamakan Desa Pandau. Walau Desa Pandau telah dihuni masyarakat Suku Dayak yang dikenal dengan Suku Gambu, Arut, Anom dan lainnya sebanyak sembilan macam suku, di bawah kepemimpinan Demang Petinggi di Umpang menerima kehadiran rombongan Pangeran Adipati.

Seperti juga tertulis dalam catatan sejarah "Sekilas mengenang lahirnya Kerajaan Kotawaringin dan Kabupaten Kotawaringin Barat" yang diterbitkan Humas dan Penerangan Setwilda Kobar 2001, Demang Petinggi sebagai kepala Suku Dayak menyerukan pada rakyatnya agar menerima rombongan Pangeran Adipati. Seruan Demang Petinggi ini didasarkan keinginan untuk mengangkat Pangeran sebagai raja tapi dengan syarat raja harus memperlakukan mereka bukan sebagai hamba, tetapi sebagai pembantu utama dan kawan terdekat atau sebagai saudara yang baik. Rakyat tidak akan menyembah sujud kehadapan Pangeran Adipati.

"Usulan ini ditimbang dan diterima baik oleh Pangeran dan seluruh rombongan," ujar Djendro diiyakan Gusti Rasyidin yang juga anak keturunan kesultanan ini. Selepas persetujuan itu, dari pihak Suku Dayak Arut mengusulkan agar perjanjian ini bukan sekedar di bibir saja, melainkan harus bermaterai darah manusia yang diambil dari seorang dari Suku Dayak Arut dan seorang dari rombongan Pangeran Adipati Anta Kasuma.

"Perjanjian itu dinamakan Panti Darah Janji Samaya yang berarti perjanjian yang dikokohkan dengan tetesan darah yang bercampur jadi satu," ungkap Gusti Rasyidin yang ketika wawancara berlangsung ditemani Nurhadi dan Ahmad Yusuf di Astana Al Noorsari Kotawaringin Lama.

Dengan tersendat-sendat, coba dia paparkan bagaimana perjanjian bermaterai darah itu berlangsung. Menurutnya, memang agak sukar diterima oleh akal, hanya demi sebuah janji harus mengorbankan dua manusia. Namun demikianlah adat yang berlaku, maka masing-masing kedua belah pihak menarik salah seorang pengikutnya untuk dijadikan korban perjanjian.

Sebelum kedua calon korban berdiri siap untuk dikorbankan, mereka mengambil sebuah batu yang harus ditancapkan ke tanah. Batu ini sebagai bukti atau perlambang turun temurun saksi sepanjang masa telah terjadi ikatan persaudaraan antara Suku Dayak dengan rombongan Pangeran Adipati dari Kerajaan Banjar. Dengan melakukan upacara adat yang hikmat, kedua calon korban berdiri di samping batu saksi yang kini dikenal dengan "Batu Pertahanan". Calon korban dari Suku Dayak berdiri menghadap ke hulu asal datangnya dan calon korban dari rombongan Pangeran berdiri menghadap ke hilir menunjukkan asal kedatangannya.

Selesai upacara sumpah setia, Kepala Suku Dayak mencabut mandaunya dan ditusukkan menembus ke dada korbannya, darah pun memancur deras. Korban dari pihak Pangeran Adipati pun ditusuk sehingga kedua darah korban ini memancur bersilang dan menetes jatuh menjadi satu membasahi tanah.

"Percampuran darah yang disaksikan kedua pihak inilah yang dimaksudkan untuk mempersatukan segala rasa dan pikiran dalam mewujudkan rencana bersama, membangun kerajaan," imbuh Rasyidin.


Terbentuk Kerajaan

Meski telah disepakati perjanjian antara kedua belah pihak, namun Desa Pandau masih dianggap belum cocok untuk membangun kerajaan baru. Kedua rombongan yang telah terpadu dalam "Panti Janji Darah Samaya" milir mengikuti aliran Sungai Arut, kemudian mudik Sungai Lamandau, mencari daerah paling pas untuk membangun kerajaan. Akhirnya, sampailah mereka di daerah yang meyakinkan yaitu Tanjung Pangkalan Batu yang kemudian hari dikenal sebagai Kotawaringin Lama. Berhentilah rombongan dan untuk beristirahat mereka membuat rumah di atas air yang biasa disebut "lanting".

"Ketika Pangeran Adipati naik ke darat, bertemulah dia dengan Kyai Gede seorang ulama penyebar agama Islam yang sudah lebih dulu tinggal di daerah itu," papar Rasyidin. Dan menurutnya, atas usulan Kyai Gede jugalah masyarakat sekitar yang dipimpin kepala suku, tidak perlu lagi membayar upeti ke Kerajaan Banjar, tapi ke Pangeran Adipati Anta Kasuma yang memimpin langsung Kerajaan Kotawaringin sebagai raja pertamanya.

Kerajaan Kotawaringin yang berbasis Islam dengan didukung Kyai Gede sebagai Mangkubumi kerajaan, sebagaimana dipaparkan Gusti Djendro Suseno melakukan pencampuran dengan masyarakat suku asli yang masih menganut agama nenek moyang dan ini berlangsung hingga raja-raja berikutnya. Tercatat raja-raja yang berkuasa setelah kepemimpinan Pangeran Adipati Anta Kasuma. Pangeran Mas Adipati putra Pangeran Anta Kasuma yang menggantikan ayahndanya setelah wafat, berkuasa dari 920-941 H. Kemudian Pangeran Panambahan Anum (942-975 H), Pangeran Prabu Anum (975-1005 H), Pangeran Adipati Anum (1005-1050 H), Pangeran Penghulu (1050-1069 H), Gusti Sultanul Baladuddin Gelar Pangeran Ratu Begawan (1069-1116 H), Gusti Musaddam Gelar Pangeran Ratu Anum Kusuma (1116-1171 H).

Namun dalam perjalanan selanjutnya, ketika ibukota kerajaan pindah ke Pangkalan Bun di bawah kepemimpinan Pangeran Ratu Imanuddin, yang menurut Djendro Suseno, pemerintahannya sangat pro pada pihak Belanda. Sehingga hubungannya dengan orang-orang Kotawaringin Lama menjadi tidak harmonis, karena Kotawaringin lama sangat kontra dengan penjajah Belanda.

Setelah kepemimpinan Pangeran Ratu Muhammad Imanuddin, menyusul bertahta Pangeran Ratu Achmad Hermansyah (1265-1281 H), Gusti Muhammad Sanusi Gelar Pra kasuma Yudha (1265-1281 H), Pangeran Pakusukma Negara (1281-1325 H), Pangeran Samudra Gelar Pangeran Ratu Sukma Alamsyah (1325-1332 H) dan Pangeran Muhammad Gelar Pangeran Ratu Kasuma Anum Alamsyah (1332-1350 H).

"Pemindahan ibukota kerajaan ke Pangkalan Bun ini yang dijadikan sebagai titik tolak lahirnya Kabupaten Kotawaringin Barat, tahun 1679 M yang terbagi atas Kec Arut Selatan, Delang, Lamandau, Kotawaringin Lama, Arut Utara, dan Balai Lama," lanjutnya bernada miris karena sejarah yang sepertinya tidak berpihak pada pendahulunya.